Feature Cause

Donate & Help

Save a Life

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Saatnya Menginspirasi
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Saatnya Menginspirasi
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Saatnya Menginspirasi
Feature Cause

Donate & Help

To Give Them a Life

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Saatnya Menginspirasi

Last Post

Selasa, 13 Juni 2017

Adjat Sudradjat Tinggi Gunung Selaksa Karya


Lahir dan tumbuh di dataran tinggi Priangan, bentang alam yang dikitari gunung-gunung api yang elok sekaligus menggentarkan, Adjat Sudradjat telah membuktikan kesanggupan, daya tahan, dan keuletan menempuh perjalanan hidup dan karier hingga ke titik-titik puncaknya. Sebagai pendidik, ia mencapai kedudukan guru besar. Dalam administrasi pemerintahan, ia pernah memegang jabatan direktur jenderal (dirjen). Sebagai ilmuwan, ia menguasai seni menggali dan menyampaikan pengetahuan kepada khalayak, baik akademis maupun umum, terutama melalui berbagai karya tulis.
Tulisan-tulisan guru besar emeritus Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran ini tidak melulu bernuansa akademis melainkan pula bernuansa sastra. Di tangannya, fakta dan pengalaman tidak jarang dituangkan ke dalam wadah cerita tempat imajinasi turut memungkinkan pengetahuan menjadi lebih hidup, lebih nyata, lebih membekas di benak pembaca. Dengan kata lain, pada sosok dan karya Profesor Adjat terlihat sebentuk persenyawaan antara ahli geologi, pendidik, dan penulis yang baik.
Semua itu, agaknya, bermula di kaki gunung api, gejala alam yang menjadi salah satu bidang keahliannya yang utama.

 Dari Kaki Galunggung ke Jakarta
Adjat lahir di kaki Gunung Galunggung, Tasikmalaya, pada 14 Januari 1942. Ayahnya, H. Ahdi Sumartadipura, berasal dari Tasikmalaya dan ibunya berasal dari Rangkasbitung, Banten. Ahdi bekerja sebagai mantri guru yang tempat tugasnya berpindah-pindah dari satu ke lain desa di sekitar daerah yang dulu dikenal sebagai “Sukapura” itu.

Adjat menempuh pendidikan dasar dan menengah di tanah kelahirannya. Pada 1960, ia memasuki Bagian Teknik Geologi, Departemen Teknologi Mineral, Institut Teknologi Bandung (ITB). Semasa kuliah, Adjat sempat menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ITB GEA (1962 sampai 1964) dan Senat Mahasiswa ITB.
Sejak kuliah pula, ia mulai meniti karier. Mula-mula pada tahun 1962, ia menjadi asisten dosen di ITB dan Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP) untuk memberikan mata kuliah Geomorfologi dan Potret Udara. Kemudian sejak Januari 1963, ia mulai bekerja di Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan, yang memberinya beasiswa ikatan dinas.
Gelar sarjananya diraih dengan predikat cum laude pada bulan Mei 1965. Setelah menyelesaikan studinya, Adjat mengikuti pelbagai kegiatan seperti pemetaan geologi tata lingkungan Jakarta dan sekitarnya yang menghasilkan Peta Geologi Tata Lingkungan Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi berskala 1:100.000, ekspedisi Baruna II yang menjelajahi perairan Indonesia.

Adjat melanjutkan studinya di bidang survei udara di International Institute for Aerial Surveys and Earth Sciences di Delft, Belanda, pada 1969-1971. Dari lembaga itu, Adjat memperoleh gelar diploma dalam bidang Photo-interpretation for Geology dan ijazah Master of Science in Photogeology. Selanjutnya, ia mengikuti berbagai kursus penginderaan jauh, di antaranya di Bakosurtanal, Universitas Filipina, dan di Earth Resources Observation System Data Center, Sioux Falls, South Dakota, Amerika Serikat.
Setelah menjabat sebagai Kepala Seksi Geologi Potret, Adjat kemudian menjadi Kepala Sub-Direktorat Vulkanologi (1976). Dan dengan terbitnya Keppres No. 15 Tahun 1978, Direktorat Geologi dikembangkan menjadi empat unit, yaitu Direktorat Sumberdaya Mineral, Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Direktorat Vulkanologi, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Keempatnya berada di bawah Direktorat Jenderal (Ditjen) Pertambangan Umum. Dalam pemekaran tersebut, Adjat menjadi direktur pertama Direktorat Vulkanologi.
Di sela-sela kesibukannya sebagai Direktur Vulkanologi (kini: PVMBG, Badan Geologi) dan dihadapkan pada Gunung Galunggung yang saat itu sedang krisis, Adjat dapat menyelesaikan studi doktoralnya pada 1982. Dalam Pendidikan Program Doktor di ITB sejak 1976 itu, ia meneliti hubungan penginderaan jauh dengan teori lempeng tektonik.
Hasil penelitiannya dia tuangkan dalam disertasi berjudul “Aplikasi Teknik Penginderaan Jauh dalam Penyelidikan Geologi Lembah Palu, Sulawesi Tengah” Sidang terbuka Senat ITB untuk mempertahankan disertasi itu dilaksanakan pada 2 Oktober 1982 di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Jalan Surapati 1, Bandung. Hasilnya, Adjat lulus meraih gelar doktor dengan yudisium sangat memuaskan (cum laude).
Pada 1988, Adjat diangkat menjadi Sekretaris Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral (GSDM). Setelah itu, ia menjabat sebagai Dirjen GSDM (1989- 1997) dan Dirjen Pertambangan Umum (1997-98). Selain itu, Adjat pernah menjadi Staf Ahli Menteri Bidang Energi dan Komisaris Utama di PT Aneka Tambang dan PT Tambang Batubara Bukit Asam, dan anggota Dewan Riset Nasional (sejak 1993).

Di bidang pendidikan, Adjat pernah menjadi dosen luar biasa di ITB, jurusan geologi Unpad, Fakultas Pertanian Unpad, Universitas Trisakti, Fakultas Geografi Gadjah Mada, AGP, dan Akademi Kehutanan Jawa Barat. Mata kuliah yang diberikannya adalah geologi, penginderaan jauh, dan vulkanologi.
Di luar negeri, Adjat pernah menjadi dosen tamu. Ia pernah mengajar di Universitas Kebangsaan Malaysia (1976), Universiteit Utrecht (Belanda), Durham University (Inggris), Universitas Tokyo (Jepang), dan International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation (ITC), Enschede (Belanda). Sejak tahun 1997, Adjat diangkat sebagai guru besar di Universitas Padjadjaran (Unpad) yang dijadikan tempat menyebarkan ilmu kebumiannya sejak 1965.
Dalam organisasi profesi, Adjat adalah anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Ia menjabat sebagai sekretaris IAGI kemudian terpilih sebagai ketua umum untuk dua periode (1979-1981). Ia juga menjadi anggota Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Ikatan Surveyor Indonesia (ISI), Persatuan Insinyur Indonesia (PII), dan Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia. Ia pun tercatat sebagai anggota American Association of Photogramametric Engineering, anggota National Geographic Society, Komite Eksekutif dari International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth Interior (IVCEI) dan  organisasi lainnya. Ia pun terpilih menjadi ketua panitia pengarah Organisasi Antar Pemerintah untuk Prospeksi Bersama di Lepas Pantai Asia Pasifik.
Ia mendapat lebih dari 80 tanda penghargaan. Di antaranya dari Circum Pacific Council for Energy and Mineral Resources, Kadin, Ikatan Alumni Lemhanas, BPPT, Fakultas Geografi Gadjah Mada, Universitas Trisakti dan Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi GEA-ITB. Juga, ia memperoleh lebih dari 15 sertifikat dan diploma latihan di dalam dan luar negeri.
Pada 17 Agustus 1991 Adjat memperoleh penghargaan Tanda Kehormatan Satyalencana Wirakarya dari Presiden Republik Indonesia
atas jasa-jasanya meningkatkan pemantauan gunung api untuk menekan ancaman bahaya letusan gunung api. Pada 17 Agustus 1995, Adjat memperoleh penghargaan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang besar terhadap negara dan bangsa Indonesia. Bersamaan dengan itu, Menteri Pertambangan dan Energi memberian Penghargaan Dharma Karya atas karya dan jasa-jasa Adjat di bidang pertambangan dan energi.
Selain itu, Adjat mendapat penghargaan Satya Karya Bhakti Kelas I dari Rektor Universitas Padjadjaran dan penghargaan dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) atas kepeloporannya di bidang vulkanologi.

Ikut Memetakan Bumi
Kegiatan pemetaan sebagai informasi dasar bagi pembangunan di Indonesia terhitung baru. Saat Belanda meninggalkan Indonesia, pemetaan geologi baru selesai 4,5 persen. Selama penjajahan Jepang dan setelah kemerdekaan sampai tahun 1968 angka itu tidak berubah. Bahkan, 94,5 persen daerah yang belum terpetakan di Indonesia dianggap merupakan daerah yang baru diketahui geologinya secara regional dan daerah terra incognita (tanah yang tidak dikenal). Pada awal kemerdekaan sampai dengan
tahun 1968, karena keterbatasan tenaga dan sarana, tidak banyak dilakukan kegiatan pemetaan dan penyelidikan geologi.

Memasuki tahun 1969, semua kegiatan pemetaan, penyelidikan dan penelitian di bidang geologi diselenggarakan dengan sistem pembangunan lima tahunan (PELITA). Kebijakan pemerintah pada waktu itu didasari oleh GBHN, yang pada intinya menghendaki adanya percepatan pembangunan di segala bidang. Pada tahun itu pula, kegiatan pemetaan bersistem di bidang geologi dimulai Indonesia.
Dalam kegiatan monumental itu, Adjat ikut terlibat. Pertama-tama, ia terlibat sebagai anggota tim pelaksanaan pemetaan geologi bersistem. Dia ikut memetakan daerah Pulau Sumbawa dan Kalimantan Tengah antara 1967-1976. Di balik pemetaan tersebut tersembul pengalaman yang menantang, menggembirakan, membuatnya lucu, dan juga sedih.
Di Sumbawa, Adjat dan kawan-kawan mengandalkan kuda sebagai sarana transportasi ke hutan-hutan. Perjalanannya menerobos hutan lindung yang dikelola Departemen Kehutanan. Dia melintasi hutan lebat, dari Taliwang di Pantai Barat, melintasi Batu Hijau yang kini menjadi pertambangan besar, sampai ke Lu

MENCARI EMAS DI KALIMANTAN. Sungai merupakan urat nadi menuju ke pedalaman Kalimantan. Satu-satunya cara melewati jeram adalah dengan mengangkat perahu. Dalam gambar tampak suasana yang menegangkan ketika rombongan pemetaan geologi sedang melintasi salah satu jeram di Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Selain Adjat Sudradjat sebagai Ketua Tim, ikut pula mahasiswa antara lain Nana Sulaksana (sekarang Dr. Ir. Nana Sulaksana, Ketua Program S-3 Geologi Unpad) dan Bagus Setiardja (Ir. Bagus Setiardja, SH MH, mantan Direktur Utama Pertamina Hulu). Produk yang dihasilkan berupa Peta Geologi Lembar Tewah, 1:250.000, peta pertama sistematik di Kalimantan. Lukisan dan teks: Adjat Sudradjat, kanvas, cat minyak, 90 x 60 cm.
nyuk, tempat transmigrasi. Dari situ, Adjat dan kawan-kawan balik arah ke utara sampai ke Sumbawa Besar. Perjalanannya sendiri berlangsung sekitar lima hari lima malam.
Namun, dari perjalan di Sumbawa itu ada yang membuatnya sedih. “Suatu ketika saya pernah terkejut bahkan menangis karena ada kuda yang melahirkan di perjalanan. Saat itu saya tidak tahu bahwa ada kuda yang sedang mengandung. Pemiliknya barangkali juga tidak tahu. Barangkali karena kecil mengandungnya, sehingga tidak kelihatan. Dan perjalanannya terlalu lama. Habis turun dari Batu Hijau, rupanya kuda itu meregang terlalu kuat saat harus turun. Kuda itu akhirnya melahirkan ketika berjalan dan anaknya langsung mati. Ya, mungkin terlalu capai membawa beban. Itu kira-kira jam delapan malam, ketika kita sudah mau mencapai tempat yang rendah,” kenang Adjat.
Kesan kedua ada yang lucu. Katanya, “Dulu penerbangan ke Sumbawa itu adalah ‘Zamrud’, yaitu bekas pesawat Angkatan Udara, berjenis Dakota. Suatu ketika ada pesawat yang meleset, keluar landasan. Semua orang yang ada di dalam pesawat itu tidak berdaya. Yang lucunya, karena di sana banyak kuda, pesawat itu ditarik oleh tiga atau empat kuda.”
Ketika melakukan pemetaan di Kalimantan Tengah antara 1973-1976, Adjat merasa tertantang. Di sana, pemataan tidak dapat dilakukan kecuali melalui Sungai Rungan yang melintas sampai Palangkaraya. Dari Banjarmasin lewat parit atau anjir, terus ke hulu sampai ke Palangkaraya aliran sungai tidak ada jeram. Namun, dari Palangkaraya ke hulu hingga ke perbatasan Kalimantan Barat, terus-menerus dijumpai jeram yang panjangnya 3-4 kilometer.
Untuk memetakan daerah di sana, Adjat dan kawan-kawan menyewa perahu penduduk, yang disebut tingting. Di sana ia kadang-kadang menyaksikan perahunya naik ke pundak orang yang mengemudikannya, karena harus melalui jeram yang agak tinggi. “Kita harus turun dari perahu, kemudian loncat-loncat melalui bebatuan, dan perahunya dipundak, dan kemudian didorongkan lagi ke sungai, begitu seterusnya,” ujar Adjat.
Selain itu, selama di sana, Adjat dan kawan-kawan hanya berkemah. Kalau kebetulan sedang senggang, kadang-kadang ikut menginap di rumah panjang masyarakat Dayak, rumah Betang. Namun, ia tak terlalu betah diam di situ. Ia lebih memilih berkemah. Biasanya setelah menelusuri sungai hingga sore hari sekitar jam 3 hingga 4, perjalanan dihentikan dan kemudian memasang flying camp.
Bukannya menginap di rumah betang, Adjat dann kawan-kawan lebih memilih berkemah di sekitar bekas ladang temporer, karena bila berkemah di dekat sungai berisiko terkena banjir yang meluap dari sungai. “Kalau ada dangaunya, kita bikin kemah di dalam dangau. Tapi di sana kita harus hati-hati karena bisa jadi ada kalajengking atau binatang lain. Jadi, lebih baik di luar sekalian,” kata Adjat.
Sementara itu, waktu yang tersedia untuk menuliskan laporan perjalanan dan pengamatan di lapangan biasanya hanya antara jam 16.00 hingga 18.00. Pagi-pagi rombongan harus sudah berangkat lagi.
Selama pemetaan di Kalimantan, Adjat dan kawan-kawan harus berhadapan dengan “si penghisap darah”, pacet atau lintah, yang betah tinggal di jatuhan daun-daun. Selain lintah, ada juga ancaman malaria yang sering berbuntut panjang. Saat di Kalimanyan itupun Adjat sudah melihat ada sedikit-sedikit orang yang melakukan pembalakan hutan. Namun, belum pembalakan itu belum termasuk penebangan yang habis-habisan.
Penjelajahannya di Sumbawa menghasilkan Peta Geologi Tinjau Pulau Sumbawa 1:250.000, sedangkan di Kalimantan Tengah men ghasilkan Peta Geologi Lembar Tewah dan Purukcahu dengan skala yang sama.
Pemetaan geologi bersistem dapat diselesaikan seluruhnya pada tahun 1995. Peta yang mencakup wilayah seluas 5,2 juta kilometer itu diselesaikan selama 25 tahun. Dengan status pengerjaannya pada Pelita I baru selesai 6%, Pelita II: 22%, Pletia III: 41%, Pelita IV: 66%, Pelita V: 96% dan Oktober 1995 seluruhnya selesai. Setiap lembar petanya mencakup luas 165 x 110 kilometer persegi (1:250.000) dan 55 x 55 kilometer persegi (1:100.000). Seluruhnya peta itu berjumlah 239 lembar, yang terdiri dari skala 1:100.000 yaitu untuk Pulau Jawa sebanyak 58 peta dan untuk pulau lainnya dengan skala 1:250.000 sebanyak 181 peta.
Penyelesaian peta seluruh Indonesia ini merupakan kerja keras dan pengorbanan para ahli geologi baik yang berada di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sekarang), di perguruan tinggi, maupun di lingkungan industri pertambangan. Hasil kompilasi peta itu dipresentasikan oleh Adjat Sudradjat selaku Dirjen GSDM di Istana Negara di hadapan Presiden Soeharto dan para menteri, pada 9 Januari 1996.
Pada waktu itu, Soeharto melakukan penandatanganan prasasti. Kemudian Menteri Pertambangan dan Energi pada waktu itu, I.B. Sudjana menyerahkan seluruh peta geologi Republik Indonesia kepada Presiden Soeharto. Saat itu Soeharto mengemukakan bahwa peta tersebut tidak perlu dirahasiakan, bahkan kalau mungkin dijual, sehingga kekayaan alam yang dikandung Indonesia diketahui secara luas.
Saat peresmian peta itu, perasaan Adjat bercampur baur. Rasa sedih, senang, bangga bercampur aduk. Katanya, “Sedihnya itu kok saya bisa melewati satu stage yang bisa mengumpulkan semua \orang, sehingga bisa sepakat dan mau dipaparkan. Saat itu ada ratusan lembar peta yang dikerjakan oleh banyak orang yang latar pendidikannya berbedabeda dan punya cara berbeda-beda, sehingga bisa menyebabkan percekokan yang sangat keras. Di situ, saya merasa seolah-olah meminta orang setengah dipaksa supaya resonansinya mau disamakan dengan temannya yang lain. Di situ saya merasa mengurangi hak orang, saat peta hasil karya mereka harus disatukan dan diterbitkan.”
Di sini Adjat membandingkan pembuat peta dengan penulis buku. Menurutnya, pembuat peta sama haknya dengan penulis buku. Di dalam hal itu, kita sebenarnya tidak boleh ikut bercampur tangan. “Yang harus kita samakan itu ya standar-standarnya saja,” kata Adjat.

Mengakrabi Gunung Api

Pemetaan dengan gunung api sangat terkait. Dalam pandangan Adjat, Indonesia merupakan negara yang paling terancam oleh bahaya gunung api. Dengan seratusan lebih gunung api di negeri ini, Adjat mengajak kita semua selalu waspada. “Dalam hal gunung api, dengan mengetahui sifat-sifat gunung api sedikit banyak kita dapat mengetahui bahayanya dan dapat menyusun peta daerah bahaya. Dengan memanfaatkan peta daerah bahaya ini, maka kita dapat menghindari bahaya gunung api. Janganlah tinggal di daerah bahaya gunung api.”
Dalam hal manajemen di Vulkanologi dan penanganan terhadap gunung api yang sedang krisis, Adjat menerapkan prinsip satu komando. Hal ini diakuinya, “Kalau di Vulkanologi saya bisa keras. Hal tersebut dilakukan mengingat kepentingan rakyat. Kalau semua orang bicara, rakyat bingung. Kalau orang vulkanologi mau bicara, kita bicara internal saja. Jadi, saya sediakan forum. Boleh berdebat apa saja. Tapi suara yang ke luar untuk konsumsi publik, haruslah satu. Kalau keputusannya harus mengungsi, semua perintah haruslah tentang keharusan mengungsi.”
Saking mengedepankan kepentingan masyarakat, Adjat pernah memarahi orang yang mau mengubah peta daerah bahaya gunung api. Adjat melarangnya karena peta itu menjadi dokumen semua orang untuk melakukan tindakan-tindakan. Prinsip satu komando ini ia timba dari pengalaman yang terjadi di Nigeria. Negara di benua Afrika itu tidak punya ahli geologi. Ketika ada gunung api yang sedang krisis, ahli gunung api yang kebanyakannya orang asing di sana saling berdebat tidak habis-habisnya, sehingga rakyat bingung dan gunungnya keburu meletus.
Memang vulkanologi itu harus murni berpihak pada kepentingan masyarakat. Di sini peran ahli gunung api khususnya, menurut Adjat, harus memberi masyarakat satu arah dan sasaran yang jelas. Kalau tidak demikian, masyarakat akan pecah, jalan sendiri-sendiri. “Jadi kita selalu menempatkan satu-dua langkah di depan masyarakat. Kalau kita hampir terkejar, kita harus melangkah lagi. Itulah yang saya coba lakukan. Saya ambil beberapa orang dan mengajak ahli gunung api untuk berpikir sebelum masyarakat tahu. Makanya jadi fokus. Kalau tidak begitu, maka yang terjadi adalah gosip,” katanya.
Selain itu, selama menjabat di Direktorat Vulkanologi, Adjat giat menggembleng para peneliti muda geologi. Hal ini antara lain diakui oleh Wimpy S. Tjetjep (Dari Gunung Api hingga Otonomi Daerah, 2002). Ia mengakui bahwa Direktorat Vulkanologi bisa menggodok dan membina warga Indonesia agar tangguh dan tanggap terhadap potensi kebumian di Indonesia.
Seperti Wimpy, ahli gunung api A.D. Wirakusumah (2013) pun mengakuinya. Saat lelaki yang akrab disapa Ade itu masuk ke Direktorat Vulkanologi pada 1980, Adjat menggagas kebijakan bagi sarjana baru yang masuk ke Direktorat Vulkanologi. Para pegawai baru itu, khususnya sarjana geologi, ditempatkan Sub Direktorat Pemetaan Gunung Api, khususnya Seksi Pemetaan Geologi Gunung Api.
Kata Ade, “Pemetaan geologi gunung api merupakan dasar dari kegunungapian. Bila pegawai baru sudah paham mengenai hal ini dan dapat menghasilkan penerbitan 2-3 peta geologi gunung api, si pegawai bisa saja pindah ke sub-direktorat lain di lingkungan Direktorat Vulkanologi, seperti ke Pengamatan Gunung Api, analisa gunung api, dan panas bumi atau terus menetap di pemetaan gunung api juga bisa.”

Selain itu, pada masa Adjat menjabat di Vulkanologi terjadi kemajuan luar biasa di bidang teknologi penyelidikan gunung api. Hal ini berkaitan dengan perubahan revolusioner di dunia kebumian pada tahun 1960-an. Akibat perubahan tersebut, aplikasi teknologi baru dalam monitoring gunung api di Indonesia sangat signifikan terasa pada tahun 1985. Karena itu, Adjat mengatakan, “era baru dalam penyelidikan gunung api di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu periode sebelum tahun 1960, antara 1960 – 1979, dan mulai 1979 saat aplikasi teknollogi moderen menjadi demikian berperan.”
Hal ini misalnya terlihat pada tahun 1980, Direktorat Vulkanologi meminta bantuan dari Asian Development Bank (ADB) untuk memperkuat kapasitas kelembagaannya. Pada tahun 1985, ahli gunung api dari United States Geological Survey (USGS) dikontrak untuk membantu Indonesia mengembangkan teknologi monitoring gunung api sebagai realisasi dari program bantuan dari ADB. Ilmuwan kebumian dari Prancis juga ikut pula terlibat dalam proyek tersebut.

Hasilnya, kata Adjat, “Berbagai macam peralatan untuk memonitor gunung api di Indonesia menjadi tersedia. Dengan bantuan keuangan dari ADB itu, penyelidikan gunung api di Indonesia, khususnya monitoring gunung api, jadi mengikuti standar internasional.”
Selain itu, dengan Program Pinjaman ADB, tersedia pula kesempatan untuk mengembangkan sumber daya manusia ahli gunung api Indonesia. Saat itu ada 15 ahli gunung api muda yang diberi kesempatan untuk melanjutkan studi kegunungapian ke jenjang pascasarjana di Victoria University, Selandia Baru. Untuk studi doktoral tersedia pula kesempatan studi gunung api di Jepang dan Prancis.
Dalam masa kepemimpinannya juga, Adjat menggencarkan publikasi kegunungapian. Sejak tahun 1979, Buletin Vulkanologi dihidupkan lagi penerbitannya yang mati suri sejak 1961. Laporan seputar gunung api Indonesia kemudian bermunculan dalam publikasi khusus, Berita Geologi, Jurnal IAGI, Dutch Geological Survey Annual Report, Episode, Nature, Scientific Event Alert Network (SEAN) Bulletin, Journal of Japan Vulcanological Society, dan lain-lain.
Majalah populer dan koran pun dijadikan wahana untuk menyebarkan warta seputar kegunungapian Indonesia.
Dalam kariernya di vulkanologi, Adjat terlibat pada penanganan letusan Gunung Api Dieng (1979), Galunggung (1982), Colo (1983), dan Kelud (1989). Dia juga mengunjungi gunung-gunung api di Jepang, Filipina, Amerika Serikat termasuk Hawaii dan Hindia Barat. Secara umum, Adjat sudah mengunjungi paling tidak 78 gunung api aktif di Indonesia.

Tak Lelah Menyebarkan Informasi Kebumian
Takdir tulisan adalah merekam dan mengawetkan ingatan orang atas pengalaman, pikiran, dan perasaannya. Menyadari akan kemampuan tradisi tulis itu, Adjat Sudradjat sudah memulainya sejak dini. Sejak duduk di bangku kelas 3 SMP, ia sudah memuatkan cerpennya dalam surat kabar Pedoman. Kegiatan menulis cerpen untuk kalangan remaja pun pernah dilakukannya.

Hingga kini, ia telah menulis beberapa buku. Tulisan ilmiahnya sudah mencapai sekitar 100 tulisan. Sementara tulisan populernya yang dimuat di dalam majalah dan koran dan kadang-kadang menggunakan sandiasma atau nama pena A.S. Sumintadipura mencapai sekitar 120 tulisan.
Untuk ihwal tulis-menulis, Adjat mengidolakan buku karya guru besar Geologi Struktur dan Geologi Terapan pada Universitas Kerajaan Leiden, Belanda, Lamoraal Ulbo De Sitter (1902-1980). Dosen yang pernah bekerja di Indonesia pada perusahaan minyak Shell itu menulis Structural Geology (1956). Buku yang diidolakan Adjat ini beredar luas, termasuk di Indonesia. Menurut Adjat, buku ini memakai “bahasa Inggris yang mudah dipahami, cara penuturannya, dan satu yang paling menonjol, logikanya sangat memikat hati. Contoh dan analisis struktur yang dibeberkan dalam buku teksnya hampir semuanya dapat dijumpai di lapangan.”
Sementara, buku-buku yang ditulis Adjat lumayan banyak, antara lain: Seputar Gunungapi dan Gempabumi (tanpa tahun), Ilustrasi Geologi (1997), dan Teknologi dan Manajemen Sumberdaya Mineral (1999). Selain dalam bahasa Indonesia dan Inggris, Adjat juga menulis pula dalam bahasa daerahnya, Sunda. Di dalam bahasa Sunda, nampak Adjat berupaya untuk lebih mempopulerkan kebumian ke dalam ranah budaya Sunda atau ikut berupaya meluaskan fungsi bahasa Sunda. Dengan menulis ilmu kebumian dalam bahasa Sunda, Adjat ikut andil dalam memperluas fungsi sosial bahasa Sunda yang selama ini terkesan hanya berkutat dalam bidang sastra dan seni Sunda.
Dalam bahasa Sunda, Adjat menulis di majalah Sunda dan buku berbahasa Sunda. Di media Sunda, Adjat pernah mengumumkan tulisannya di majalah Baranang Siang yang terbit di Bogor dan Bandung antara 1964-197. Di majalah itu, dengan menggunakan nama pena, ia pernah menulis pengalamannya mengikuti Ekspedisi Baruna yang mengarungi lautan ke wilayah Timur Indonesia. Demikian pula dalam majalah Mangle, Cupumanik, dan Sunda Midan, Adjat sering menulis.
Tulisannya yang berjudul

“Gunung di Tatar Sunda” yang sebelumnya pernah dimuatkan dalam majalah Sunda Cupumanik edisi Oktober 2009 meraih juara I Hadiah Sastra Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) untuk kategori esai 2009.
Selain artikel, terpaut dengan upaya mempopulerkan kebumian di ranah budaya Sunda, Adjat juga menulis buku berbahasa Sunda. Hingga kini, ia sudah menulis buku Didodoho Lahar: Lalakon Galunggung Bitu (2010), dan Wanoh ka Lakuning Jagat (2013). Melalui Didodoho Lahar, Adjat ingin menyampaikan mengenai aktivitas gunung berapi, khususnya gunung Galunggung yang disajikan dalam cerita berbingkai, yakni cerita yang dikemas dalam cerita. Buku ini layaknya novel, ada tokoh, alur, latar, tema, pesan, dan amanat. Pembaca dapat mendapat ilmu yang bermanfaat dengan alur cerita yang tidak membosankan. Karya ini pun dapat dijadikan panduan dalam mitigasi dan penanggulangan bencana.
Demikian pula dalam Wanoh ka Lakuning Jagat, yang menjadi pusat perhatiannya adalah pengaruh  alam fisik terhadap kehidupan manusia. Di sini Adjat yang memadukan pandangan seorang ahli geologi dengan pandangan budaya mengingatkan bahwa perilaku alam, seperti gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami; takkan bisa dicegah manusia. Namun, dengan mengenal alam, membaca isyarat alam, manusia sudah harus waspada terhadap proses alam yang akan muncul. Karya ini pun dapat dijadikan panduan dalam mitigasi dan penanggulangan bencana.
Hingga sekarang, Adjat yang menikah dengan Erna Suliantini Agustini dan mempunyai dua putri, yaitu Pikania Dewi dan Pandania Dewi, itu tetap aktif berperan sebagai penyambung “lidah” kebumian. Ia tetap aktif menulis, bahkan kian produktif. Satu per satu karya tulisnya diterbitkan dalam media berbahasa Inggris, Indonesia, dan Sunda, baik tulisan ilmiah maupun populer. Ia juga tetap aktif menyebarkan ilmu geologi di kelas kampus, seminar, kongres, ceramah, dan sebagainya.
Pengalaman Adjat memperlihatkan kearifan bahwa manusia dan alam harus harmonis. Dengan demikian, kita harus mengetahui keinginan alam. Bila pun terjadi bencana alam, maka hal tersebut harus dianggap sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dengan memahami sifat-sifat alam, bahaya bencana alam dapat diperhitungkan dan korbannya dapat ditekan sekecil mungkin. Kita harus senantiasa waspada dan selalu mengikuti kaidah-kaidah alam.
Penulis: Atep Kurnia, T. Bachtiar, dan Hawe Setiawan Pewawancara: T. Bachtiar, Hawe Setiawan, dan Atep Kurnia Fotografer: Deni Sugandi


Lika-liku Perburuan LoA (Letter of Acceptance) Doktoral dari Profesor (Jerman)

Kontributor : Arif Luqman
ALHAMDULILLAH!!! Teriak sambil jingkrak2 dalam hati.
That’s what I feel when I got LoA from Professor. Gimana gak senengnya bukan main, perjuangannya nyari aja pontang panting jungkir balik berurai air mata (lebay dan dramatis.. hehe). Tapi jangan keburu menyimpulkan dulu kalau nyari LoA itu susah dan juga jangan cepat menyimpulkan kalau nyari LoA itu mudah. Everything needs process and it depends on your effort and fate.
Yang mau saya ceritakan disini adalah pengalaman saya dalam berburu LoA buat S3 di Jerman. Ya, sesuai dengan quote (bikinan sendiri) berbahasa inggris di atas, berburu LoA itu tergantung usaha dan NASIB (terutama LoA buat S3). Karena faktor nasib disini berpengaruh sangat besar dalam perburuan LoA, tapi setelah usaha sekuat tenaga pastinya.
Bicara tentang usaha, perburuan LoA ini “memaksa” saya untuk berusaha lebih dari biasanya. Kenapa?? Karena ketidaklinearitasan jurusan S1 dan S2 yang saya ambil. S1 saya mengambil jurusan Biologi di ITS sedangkan S2 saya mengambil jurusan Teknik Lingkungan di ITS juga (karena suatu hal jadi gak bisa ambil jurusan yang sama dengan S1). Nah karena nasib inilah yang membuat saya harus berusaha lebih dalam berburu LoA. Kenapa (lagi)?? Karena, untuk S3 (hampir) semua Profesor akan mengambil anak didik yang sudah sangat kompeten di satu bidang dimana salah satu parameter utama yang dilihat kelinearitasan jurusan yang diambil saat S1 dan S2.
Karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan mikrobiologi dan biologi molekuler maka saya memutuskan untuk mencari Profesor yang penelitiannya ke bidang tersebut. Jadi balik kucing ke bidang S1 saya dulu. Hehehe..
Kembali ke cerita perburuan LoA. Perburuan LoA diawali dengan melengkapi dokumen dan hal-hal yang biasanya akan diminta pada saat mencari LoA dari seorang Profesor. Hal-hal yang perlu dipersiapkan, misalnya :
  1. Akun skype. Akun skype ini sangat penting sekali sodara. Karena most of Professor will ask for online interview via skype.
  2. Scan ijazah dan transkrip nilai bahasa inggris.
  3. Surat rekomendasi. “biasanya” Profesor yang kita lamar akan minta surat rekomendasi minimal dari 3 orang yang mengenal kita. Seringnya dari pembimbing S1 dan S2 serta profesor lain.
  4. Motivation letter dan CV. Ini juga salah satu syarat yang sering diminta.
  5. Setifikat bahasa inggris. Sangat penting, tapi biasanya di awal profesor gak minta.
  6. Resume dari bachelor thesis dan master thesis dalam bahasa inggris.
  7. Research Proposal. Yang ini gak wajib sih, tapi lebih baik disiapin. Karena ada 2 tipe profesor, yang ngasih topik penelitian dan yang memberi kebebasa topik penelitian dari kita sendiri.
  8. Cover letter. Cover letter ini isinya kayak surat lamaran, harus singkat, padat, dan jelas karena profesor tidak akan punya waktu banyak untuk baca email kita. Takutnya kalau cover letternya kepanjangan malah dikira spam dan gak diperhatiin sama profesor yang kita lamar. Saya buat cover letter ini sebagai master yang dikosongin universitas tujuan dan nama profesornya.

Yak, syarat-syarat diatas termasuk dalam faktor usaha. Karena lengkap gaknya benar-benar tergantung dari kita. Selain hal-hal yang sudah saya sebutin di atas kita juga harus punya list Universitas yang diincar. This is very important!! Karena gak semua universitas punya jurusan/bidang yang kita minati dan juga gak semua universitas masuk listnya LPDP. Hehehe..

Lanjut. Perjuangan untuk mencari Loa baru dimulai. Perburuan LoA saya mulai dengan ngubek-ngubek web universitas buat nyari profesor dengan bidang penelitian yang saya minati. Setelah nemu yang bidangnya cocok, langsung saya kirimi cover letter yang telah saya buat sebelumnya tanpa ada attachment file apapun. Oke selesai. Hari pertama perburuan LoA saya melamar setidaknya 4-5 Profesor dari Universitas berbeda. Tugas selanjutnya?? Menunggu!

Sehari menunggu, masih belum ada jawaban. Keesokan harinya lagi. *Cetung* (bunyi notifikasi email masuk). Seneng banget dapet balasan email dari salah satu professor yang saya lamar. Gak sabar buka, dan klik. Isinya :
I’m sorry, I have no availabe PhD position for now. Best wishes for your future.”
Gleg!! Yak, kecewa tapi seneng. Kecewa karena penolakan dan seneng karena ada respon dari profesor yang dilamar. Perjuangan masih harus berlanjut sodara.

Hari-hari selanjutnya saya mengirim email ke beberapa profesor. Tiap hari 4-5 profesor saya kirimi email. Setidaknya ada lebih dari 50 profesor yang saya lamar (bukan mendramatisir). Dari sebanyak itu, yang merespon “cuma” kurang lebih 15 profesor dengan rincian : 12 profesor menolak dan “hanya” 3 memberi sinyal-sinyal positif. Penolakannya macam-macam, ada yang karena udah pensiun (udah pensiun kok masih ada di web universitasnya??), ada yang mau pensiun, gak ada posisi yang available, dll dkk dsb dst.

3 profesor yang memberi sinyal positif ini rincianya sbb :
  1. dari Universität Dusseldorf, Jerman.
  2. dari RWTH Aachen, Jerman
  3. dari Universität Tübingen, Jerman.

Professor pertama dari Dusseldorf. Pertama, profesor ini memberi respon sangat positif karena sedang ada posisi available untuk PhD student di grup risetnya. Beliau membalas email dengan menanyakan bidang spesifik yang saya minati, meminta surat rekomendasi, dan motivation letter. Selanjutnya baliau masih memberi respon dengan sinyal-sinyal positif yang lebih kuat #eak. Kemudian beliau meminta transcript S2 sementara (karena saat itu saya masih belum lulus S2). Email terkirim dan semakin harap-harap cemas. *Cetung* (bunyi notifikasi email masuk (lagi)). Klik. Isinya kira-kira :
“I’m sorry. Field that you have studied in your master degree doesn’t fit with our requirement. Hope you’ll find the most appropriate field for your doctoral.”
JLEB!!!! Gini ya sahitnya di PHP-in. Rasa sakitnya tu DISINI..!! *sambil nunjuk dada*
Yahhh.. Ini yang namanya nasib. Kalau emang gak rejeki masuk universitas ini ya gak akan bisa.

Rasa sakit di dada belum menguap tapi tekad untuk mendapat LoA memang tidak bisa dibendung (kalau yang ini memang sengaja didramatisir.. Hahaha). Selang sehari, saya kirim lagi email ke beberapa profesor. Dan mendapat balasan positif dari profesor dari RWTH Achen. Wihh… rasa optimis dan ge er langsung melambung. Secara, universitasnya Pak Habibie dulu. Beliau meminta jadwal untuk interview visa skype dengan menyebutkan jadwal dari beliau yang available untuk interview. Saya memiliki jadwal satu minggu setelahnya untuk persiapan materi dan mental. Materi meliputi pendalaman bidang yang akan ditekuni dan juga modem dengan provider internet yang jaringannya wuss wuss dengan cara nyari pinjeman modem sana-sini..Hehehe. Persiapan materi saya lakukan dengan mendalami jurnal-jurnal terbaru yang profesur tersebut publikasikan. Dari 4 jurnal yang saya baca, sudah merasa agak aneh dan curiga, semuanya kok berbau jamur-jamuran alias mikologi dan saya bukan peminat bidang ini. Akhirnya tiga hari sebelum interview saya memutuskan untuk bertanya via email mengenai fokus penelitian yang beliau lakukan saat ini. Dan beliau menjawab, ya tentang jamur. Pfft!!. Dengan berat hati dan malu saya membatalkan interview dengan profesor tersebut karena ketidaksesuaian bidang penelitian. Ini akibat saya gak teliti dalam menelusuri track record penelitian profesor yang akan saya lamar.

The last but not least. Profesor dari Universität Tübingen, Jerman. Balasan pertama dari profesor ini awalnya menolak dengan isi email kira-kira :
I’m sorry. We have no vacant position. You must have stipendium.
DEG!! Kecewa beberapa saat sebelumsaya baca lagi email beliau dan menemukan kata ajaib disana “vacant” dan “stipendium”. Masih ada harapan sodara! Saya memberanikan diri membalas email beliau dengan menyatakan bahwa posisi saya saat itu merupakan kandidat penerima beasiswa dari dikti (saya gak bohong). Beliau meminta bukti tertulis mengenai pernyataan saya tersebut dan saya kirim. Beliau juga meminta dokumen-dokumen yang diperlukan (seperti yg saya sebutkan di atas). Beliau membalas lagi,
The Dean needs your master certificate and transcript for the accpetance letter.”
Saya bingung karena belum punya ijazah dan transcript karena belum lulus S2. Tidak kehabisan akal, saya membalas lagi email beliau dan meminta LoA dari beliau sendiri terlebih dahulu. Dan beliau pun membalas :
That’s a good idea.“
Saya masih gak mudeng dengan balasan email pendek tersebut dan 5 menit kemudian beliau mengirim email lagi dengan satu file pdf attached. JRENG JREEENGG..!!! Ternyata file pdf tersebut adalah LoA sodara, iya LoA!!!! 😀 😀

Betapa bersyukurnya saya saat itu. Betapa gembiranya kita saat menemukan orang yang mau menerima kita apa adanya walaupun S1 dan S2 saya tidak linear, yg dalam hal ini orang tersebut adalah profesor yang saya lamar. Ini yang saya sebut faktor NASIB. Udah profesornya gak minta interview, langsung ngasih topik penelitian lagi, jadi gak pusing “mikir” topik lagi. Bener-bener NASIB mujur.

Jadi, untuk mendapatkan LoA dari profesor, faktor nasib sangat berpengaruh besar. Tips buat teman-teman yang sedang mencari LoA dari Profesor :
  1. Jangan pernah berhenti berusaha
  2. Perhatikan etika penulisan email dan ejaan nama profesor yang kita lamar. Karena kita tidak pernah tahu se”baik” apa profesor yang kita lamar
  3. siapkan dokumen selengkap mungkin
  4. Alangkah baiknya saat melamar profesor, kita sudah punya LoG (Letter of Guarantee) atau LoS (Letter of Sponsorship) dari provider beasiswa kita karena banyak juga profesor yang tidak memiliki anggaran khusus untuk “menggaji” kita sebagai PhD student sehingga probabilitas untuk diterima akan lebih besar kalau sudah ada beasiswa
  5. Berdoa, berdoa, dan berdoa.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membaca. Viel Erfolg und glücklich!! 😀

A. Djumarma Wirakusumah Perawi Gunung Api


Ketika melihat sebongkah batu, mata awam tidak menangkap apapun selain bentuknya. Ada yang bulat, lonjong, persegi, pipih, dan sebagainya. Ukurannya kadang besar seperti raksasa, kadang kecil seperti gundu. Mata awam tidak awas pada keiistimewaan batu. Adapun mata ahli geologi mampu menentukan jenis bahkan sumber batuan yang biasa kita lihat itu.

Di mata ahli geologi, batuan bahkan menjadi semacam kunci ke masa lalu. Ungkapan tersebut ditimba dari ahli gunung api Achmad Djumarma Wirakusumah (59), yang sempat diwawancarai oleh tim Geomagz. Dari perbincangan di Bandung dan Cepu beberapa waktu lalu, tergambar pertautan antara batuan dan gunung api sebagai sumbernya. Bahkan tergambar pula kaitannya dengan peta geologi, peta rawan bencana, dan pendirian museum geologi.

Bagaimana pria kelahiran Bandung, 1 Januari 1954, itu berkenalan dengan gunung api? Ade begitu sapaan akrabnya, mulai tertarik oleh geologi karena cita-citanya hendak mencari pekerjaan di kota yang memberikan peluang untuk sering bepergian ke daerah.

Kebetulan, pada masa remajanya, Ade sangat dekat dengan pamannya, Hermia Patmaatmadja, yang mengajarkan aljabar. Sang paman yang mengajar di SMA BPI dan SMA 11 Bandung itu sering menanyakan perihal cita-cita Ade: Hendak melanjutkan ke sekolah mana? Pertanyaan tersebut terus berulang sekitar empat kali, dari sejak kelas 3 SMP hingga kelas 3 SMA. Akhirnya, setelah dipikirpikir dan dikonsultasikan ke sana-ke sini, tekadnya bulat, “Saya hendak masuk sekolah yang nanti kerjanya di kota tapi sering ke daerah.”
Mengenai geologi pun ia dengar mula-mula dari sahabatnya waktu SMA. Suatu saat ia pernah ngomong-ngomong dengan Sobur Koswara, sahabatnya waktu di SMA 5 Bandung. Kata sahabatnya itu ia terkesan dengan pamannya yang bekerja di bidang geologi. Katanya, pekerjaannya banyak pergi ke daerah.

Setelah Ade masuk ke Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1973 dan tinggal menunggu penjurusan, ia berbincang dengan pamannya mengenai geologi. Saat itu, kebetulan, ada pegawai Vulkanologi yang indekos di rumah bibinya, Nikmatul Akbar. Obrolan Ade dengan pamannya barangkali terdengar oleh Nikmatul. Dia pun kemudian sengaja datang ke rumah Ade untuk mengajak berbincang ihwal geologi. Obrolannya tidak jauh berbeda dengan yang diungkapkan oleh Sobur.

“Kemudian waktu ada penjurusan, kan jurusanjurusan yang bau-bau sering ke daerah itu, ada tiga, yaitu tambang, minyak, dan geologi. Saya jadi bingung. Tapi kemudian teringat ucapan Nikmatul Akbar mengenai geologi. Sehari menjelang penjurusan, akhirnya saya memilih geologi,” ujar lulusan ITB tahun 1979 itu.

Setelah lulus kuliah pada Oktober 1979, Ade melamar ke Caltex dan diterima. Namun, orang tuanya tidak setuju karena tempat kerjanya jauh dari rumah. Untuk menjajal keahliannya, ia juga sempat ikut dalam pemboran untuk membangun bendungan di Cepu dan Ngawi. Selama tiga bulan ia bekerja di lapangan dan belajar membor kepada tukang bor. Kemudian, karena ada lowongan, Ade masuk menjadi PNS di Direktorat Geologi sejak Maret 1980.

Di Lingkungan Geologi
Di lingkungan Direktorat Geologi sebenarnya Ade seharusnya masuk ke bagian geologi teknik. Hal itu berkaitan dengan skripsinya yang membahas Bendungan Wadas Lintang, Jawa Tengah. Namun, ia malah memilih menekuni kegunungapian, yaitu masuk ke Vulkanologi.

Namun, Ade punya alasan lain. Ia mengaku, “Saya selalu tertarik mencari bagian yang jarang dimasuki orang. Ditambah ada keinginan untuk sekolah lagi. Waktu itu, saya dengar di Vulkanologi bisa jadi banyak peluang. Akhirnya saya membelok ke Vulkanologi.”
Meski untuk urusan keuangan di bagian vulkanologi cenderung tetap, tidak “basah” seperti di bagian lainnya, tapi menurut Ade di situ banyak kerja sama dengan pihak luar. Dengan jalan kerja sama demikian, maka peluang untuk melanjutkan studinya sangat besar.

Saat masuk ke vulkanologi, Direktur Vulkanologi Adjat Sudrajat menggagas kebijakan bagi sarjana baru yang masuk ke situ. Para pegawai baru, khususnya sarjana geologi, ditempatkan di Sub- Direktorat Pemetaan Gunungapi khususnya Seksi Pemetaan Geologi Gunungapi. Ade menganggapnya sebagai kawah candradimuka, karena secara fisik memang paling berat, harus naik-turun gunung. “Namun,” menurut Ade, “Pemetaan geologi gunung api merupakan dasar dari kegunungapian. Bila pegawai baru sudah paham mengenai hal ini dan dapat menerbitan 2-3 peta geologi gunung api, si pegawai bisa saja pindah ke sub-direktorat lain di lingkungan Direktorat Vulkanologi, seperti ke Pengamatan Gunung api, analisa gunung api, dan panas bumi atau terus menetap di pemetaan gunung api juga bisa.”

Dari beberapa kali melakukan pemetaan, Ade pernah diangkat menjadi Kepala Tim Merapi. Kemudian saat itu ada kerja sama dengan USGS (United States Geological Survey) untuk menangani bencana Gunung Merapi, karena gunung ini sangat aktif, terkenal ke seluruh dunia, dan mempunyai tipe letusan khas. Karena menjabat sebagai Katim Merapi, Ade dilibatkan dalam kerja sama itu. Karena yang sehari-harinya terlibat dalam kerja sama itu adalah Sub-Direktorat Pengamatan Gunungapi, maka Ade pindah ke bagian itu pada 1982. Tugas utamanya kala itu adalah mengamati kegiatan gunung api di seluruh Indonesia terutama di Sumatra dan Jawa.

Untuk itu, Ade sering ditugaskan ke daerah yang bergunung api di Sumatra dan Jawa. Dari 129 gunung api aktif yang ada di Indonesia, hingga sekarang ia pernah menjajal 40% di antaranya. Ia pun pernah  mengunjungi hampir 90% dari 70 Pos Pengamatan Gunung Api di seluruh Indonesia. Selama itu, ia sering mengalami suka-dukanya. Ia sering bekerja sendirian di Pos Pengamatan Gunung Api di tempat terpencil selama beberapa lama. Demikian pula bahaya yang bisa jadi mengancamnya.
Keinginan untuk melanjutkan studinya mulai terbuka. Ia berkesempatan belajar di The International Institute of Seismology and Earthquake Engineering (IISEE) Tsukuba, Jepang, pada 1982. Ia lulus pada 1983, dengan mendapat gelar Diplome in Seismology (Dipl, Seis).
Dua tahun kemudian, Ade ditunjuk sebagai kepala tim peneliti dari pihak Indonesia pada Ekspedisi Snellius II (1984-1985). Ekspedisi ini ditujukan untuk meneliti kegeologian kawasan Indonesia timur (Busur Banda). Kerja sama ilmuwan Indonesia-Belanda ini
menjadi jembatan terciptanya kerja sama dengan negara lainnya. Juga menjadi salah satu mata rantai bagi Ade untuk melanjutkan studinya.

Hasil dari ekspedisi ini, paling tidak Ade bisa menulis empat tulisan ilmiah bersama peneliti Indonesia dan Belanda. Keempat tulisan tersebut adalah “The Sirung volcanic boiling spring: An extreme chloride-rich, acid brine on Pantar (Lesser Sunda Islands, Indonesia)” yang dimuat dalam Chemical Geology 76 (1989). Sementara tiga tulisan lagi dimuat dalam Netherlands Journal of Sea Research 24 (1989: 303-301), yaitu, “Volcanism and tectonics in the Eastern Sunda Arc, Indonesia,” “Spatial Geochemical variations of arc volcanism around the Banda Sea,” dan “Geochemistry of Hot Springs and Fumarolic gasses from the Banda Arc.”

Kesempatan kedua untuk belajar lagi datang dari beasiswa Asian Development Bank (ADB). Sejak 1987, ia tercatat sebagai mahasiswa S3 di Victoria University of Wellington, Selandia Baru. Di sana ia mendalami ihwal gunung api sampai lulus pada 1991.
Setelah kembali dari Selandia Baru, Ade sempat ditempatkan lagi di Direktorat Pemetaan sebagai Kepala Seksi Pemetaan Geologi. Kemudian Kepala Sub-Dit Pemetaan Gunung Api dan juga Kepala Sub- Dit Analisa Gunung Api. Pada 1999 Ade diangkat menjadi Direktur Vulkanologi hingga 2004. Pada 2004-2008, ia menjabat sebagai Direktur Tata lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan. Terakhir, sejak 2008 hingga 2012, Ade menjadi Kepala Pusat Survei Geologi.
Secara keseluruhan, Ade pernah menjabat sebagai direktur atau kepala pusat di tiga bagian yang berbeda di lingkungan Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral yang kemudian berubah menjadi Badan Geologi sejak 2008. Di lingkungan tersebut, dialah orang pertama yang pernah menjabat sebagai kepala pusat di tiga bagian yang berbeda.
Selain itu, selama kariernya di dunia kegunungapian, Ade pernah mengikuti mitigasi bencana letusan gunung api, antara lain saat letusan Gunung Galunggung (1982), Gunung Colo (1983), Gunung Merapi (1984 dan 2001), serta letusan Gunung Papandayan (2002). Gunung Usu, Gunung Aso, dan Gunung Unzen di Jepang, Gunung St Helens di Amerika Serikat, serta Gunung Colima di Meksiko, Gunung Tarawera dan Ruapehu di Selandia Baru pernah didaki dan diselidikinya.

Stratigrafi Gunung Api
Pengalaman Ade selama bergelut dengan gunung api melahirkan pemikiran baru di bidang pemetaan gunung api. Sejak melakukan pemetaan untuk pertama kalinya pada 1983 di Gunung Merapi, ia merasakan adanya yang kurang dalam pemetaan gunung api.

“Karena sedikit kami dibagi-bagi oleh Kepala Seksi Pemetaan Pak Edi Kasidi. Waktu itu cara kerjanya masih ke sana-ke sini. Campur baur, ada yang berdasarkan pada ini dan pada itu. Anak-anak muda dibiarkan untuk mengeksplorasi cara memetakan gunung api. Dan waktu itu ilmu gunung api masih baru, baik di Indonesia maupun dunia,” kenang Ade.
Memang, saat itu pemetaan geologi dilakukan dengan menggunakan metode lama. Pada 1970-an kegiatan itu menggunakan cara pemetaan geologi bersistem. Pada 1980 pemetaannya dilakukan dengan cara pemetaan khusus bagian gunung api. Batas lembarannya ditentukan berdasarkan sebaran batuan/endapan gunung api yang dipetakan.

Menurut Ade, saat itu orang memetakan gunung api seperti memetakan aspek geologi yang lain, yakni dengan menggunakan metode litostratigrafi, berdasarkan sedimentasi batuan. Sehingga di dalam pemetaannya mengenal istilah formasi, yang didasarkan pada endapan paling jelas yang nampak di suatu daerah. “Tetapi,” kata Ade, “Di gunung api itu tidak didasarkan pada formasi, melainkan dari sumber mana dia diletuskan, jenis batuan apa yang diletuskan, dan bagaimana terjadinya atau genesanya.”
Karena itu, setelah mencari-cari model pembuatan peta geologi baru, Ade bersama-sama dengan Rudy Bacharudin, Sujanto, dan Sutikno Bronto menggagas stratigrafi gunung api (volcano stratigraphy) pada 1986.
“Cara kerja stratigrafi gunung api dimulai dari puncak kemudian terus menurun ke bawah. Di puncak bisa melihat ke bawah, kiri-kanan, ke depan-belakang. Sehingga pemandangan dan penyebarannya jadi luas. Di atas itu, masalah gunung demikian kompleks untuk menerangkan bagaimana sejarah pembentukan gunung api itu. Ke bawahnya tinggal menelesuri apa yang terjadi di puncak,” jelas Ade.
Lebih jauh dia menjelaskan bahwa pada hakikatnya, metode baru pemetaan gunung api itu terkait dengan jenis batuan, sumber letusan, dan genesa gunung api. Jadi, menurutnya, “Kalau kita menemukan sebongkah batu, dalam volcano stratigraphy, akan tertuju kepada dari mana asalnya. Karena batu adalah cerminan dari hasil letusan pada saat meletusnya gunung api di waktu tertentu. Sekarang, kita memetakan dan menemukan batu. Nah, batu itu kita terjemahkan bahwa waktu dulu
pada suatu saat tertentu gunung itu pernah meletus yang cara meletusnya tertentu dan hasilnya ke sini. Dan dikonfirmasi dengan foto udara, bahkan sekarang dengan citra. Dengan urutan tersebut, kita jadi tahu karakteristik letusan gunungnya. Karakteristik gunung api itu dapat dipelajari dari peta geologi gunung api.”

Dari volcano stratigraphy, menurut Ade, kita jadi tahu urutan pembentukan gunung api. Sesudah itu baru aplikasi. Dengan mengetahui urutan itu, kita jadi tahu karakteristik gunung api tersebut. Berbekal peta geologi, kita dapat memetakan peta kawasan rawan bencana gunung tersebut.
Pengetahuan mengenai stratigrafi gunung api ini digunakan oleh Ade saat dia menyusun disertasi doktoralnya di Victoria University of Wellington, Selandia Baru. Judulnya Some Studies of Petrology, Volcanology and Structures of Mt. Kelut, East Java, Indonesia (1991). Metode ini pun diajarkan pada para pegawai baru pemetaan geologi dan beberapa universitas yang pernah mengangkat Ade sebagai dosen luar biasa yang mengajarkan ilmu gunung api.

Menggagas Museum Kegeologian
Selama berkiprah di dunia kegeologian, Ade mempunyai gagasan yang terkait dengan penyebaran informasi kebumian secara populer kepada masyarakat Indonesia. Dalam hal ini Ade mencetuskan pendirian museum gunung api, memprakarsai pendirian museum kars, museum tsunami, dan pemasangan panel informasi kegunungapian.

Gagasan museum gunung api muncul saat Ade belajar di Jepang (1982-1983). Di sana dia melihat museum gunung api Aso di Pulau Kyushu dan Gunung Usu di Pulau Hokkaido. Ade merasa kagum sekaligus terinspirasi untuk mendirikan museum sejenis di Indonesia, mengingat Indonesia berada di alam geologi yang sangat kompleks termasuk kebencanaan geologinya.
“Ide pembangunan museum gunung api ini adalah dengan tujuan mempromosikan Indonesia melalui keberadaan gunung api. Selain itu, memberikan informasi kepada masyarakat luas terutama para wisatawan tentang kegunungapian bukan hanya dapat dinikmati keindahannya saja tetapi juga tahu bagaimana itu bisa terjadi, sehingga menjadi wisata bernuansa edukasi di bidang gunung api,” jelasnya.
Untuk mewujudkan museum gunung api itu terbilang panjang. Sekembalinya dari Jepang, ide itu disampaikan kepada para petinggi Direktorat Vulkanologi dan Departemen ESDM. Pada 1986, Direktur Vulknalogi Adjat Sudradjat pernah mendiskusikan hal ini dengan Menkokesra Azwar Anas. Demikian pula saat mengikuti Kursus Sepamen di LAN Jakarta pada 1999, Ade kembali mengutarakan idenya antara lain kepada Hary Santoso (Dephut) dan Tjakra Sudarsana (Depdagri).
Kemudian, saat ada PKL (Praktik Kerja Lapangan) ke Bali, Ade memasukkan proposal pembangunan museum gunung api di Indonesia yang salah satunya adalah Gunung Batur (Bali). Saat itu, bersama Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Bali Tjakra Sudarsana, ia menjelaskan proposal tersebut kepada Sekretaris Daerah Provinsi Bali yang kemudian menyetujui gagasan tersebut.
Pada saat yang bersamaan, Menteri ESDM Kuntoro Mangkusubroto dan Gubernur DI Yogyakarta Hamengkubuwono X mengagas ide yang sama. Saat itu Kuntoro sedang mengunjungi Bantul untuk memberi bantuan pengeboran air tanah.
Pembicaraan mengenai gagasannya muncul kembali pada 2002. Dalam perjalanan mengantar rombongan anggota DPR dari Denpasar ke lapangan panas bumi Buyan Beratan, Bali, Ade bersama Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Daya Mineral Wimpy S. Tjetjep, berkesempatan menyampaikan ide itu. Anggota perwakilan rakyat itu menyambut baik dan setelah kembali ke Jakarta, anggota DPR mengusulkan pembangunan museum gunung api di Indonesia kepada Menteri ESDM. Dari situ, keluarlah anggaran untuk pembangunannya dari APBN.
Kemudian, secara maraton, Ade menemui Bupati Sleman (Yogyakarta) Ibnu Subiyanto untuk membicarakan usulan pembangunan Museum Gunung Merapi dan kemudian Bupati Bangli I Nengah Arnawa dan wakilnya I Made Gianyar untuk membicarakan usulan pembangunan Museum Gunung Batur. Ternyata setelah melalui diskusi panjang lebar, kedua usulan tersebut sangat disetujui dan didukung masing-masing bupati dan anggota DPRD.

Sebelum museum di Sleman selesai, dibangun juga museum gunung api Merapi yang lebih kecil di Ketep, Kabupaten Magelang. Pembangunan ini merupakan wujud kerja sama antara Menteri ESDM dengan Gubernur Jawa Tengah. Museum di Ketep ini selesai dan diresmikan oleh Menteri ESDM pada 2003.
Sementara itu, pembangunan Museum Gunung Api Batur di Bali diresmikan Menteri ESDM pada 2007 dan Museum Gunung Api Merapi di Sleman diresmikan Menteri ESDM pada 2009. Bahkan pada September 2012, Kawasan Gunung Batur diakui lembaga PBB UNESCO sebagai anggota taman bumi dunia (Global Geopark Network). Tentu saja, keberhasilan ini tidak lepas dari terbangunnya Museum Gunung Api Batur.
Kesuksesan menggagas dan merancang museum gunung api bersambung dengan pendirian museum kars. Pada 2005, saat menjabat Direktur Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Ade ditugaskan untuk membangun Museum Kars di Wonogiri, Jawa Tengah. Pada 2010, museum ini rampung dibangun dan diresmikan Menteri ESDM.
Demikian pula saat menjabat sebagai Kepala Pusat Survei Geologi, Ade ikut memikirkan dan membangun materi peragaan museum tsunami yang saat itu sedang dibangun. Museum yang terletak di Banda Aceh ini selesai dan diresmikan pada 2011.
Kegiatan penyebaran informasi yang dilakukan Ade terus berlanjut. Sebagai ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Jawa Barat dan Banten, Ade bekerja sama dengan Dinas Kehutanan menggagas pemasangan panel informasi populer kegunungapian. Dengan panel tersebut, selain menikmati keindahan pemandangan wisatawan juga mendapatkan informasi kegunungapian.
Panel tersebut berisi informasi kegunungapian Gunung Sunda-Gunung Tangkuban Perahu. Peresmian pemasangannya di mulut Gua Belanda, Dago Pakar, Bandung Utara, oleh Ketua Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jawa Barat dan Banten pada 2011.

Kegiatan Kini
Meski secara struktural telah pensiun dari lingkungan Badan Geologi, tapi kegiatan Ade untuk menyebarkan ilmu gunung api yang menjadi keahliannya tidaklah berhenti. Kini, ia mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM)-Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas), Jl. Gajah Mada No. 38 Cepu, Blora, Jawa Tengah.

Di perguruan tinggi yang ada di bawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di itu sejak Februari 2012 Ade mengajar ilmu kegunungapian termasuk panas bumi. Di balik keputusannya untuk kembali ke kampus adalah, “Agar masyarakat dapat mengantisipasi kegeologian termasuk segala bentuk bencana geologi yang terjadi khususnya bencana yang disebabkan oleh gunung api.”
Disebut kembali ke kampus sebab sudah lama ia aktif berbagi ilmu kebumian di perguruan tinggi. Sejak 1994 ia menjadi dosen luar biasa mata kuliah Vulkanologi di Jurusan Geologi, Universitas Padjajaran. Selain itu, ia pernah mengajar di Universitas Hasanudin (Makassar), Institut Teknologi Bandung (Bandung), Universitas Diponegoro (Semarang), Universitas Sriwijaya (Palembang), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Sebagai dosen, Ade terlibat sebagai pembimbing penelitian akhir mahasiswa untuk tingkat sarjana di Universitas Padjajaran dan pasca sarjana ITB. Demikian pula sebagai penguji, ia pernah menjadi penguji untuk S3 di ITB.
Sekarang di perguruan tinggi yang sejak 2013 berubah statusnya dari Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas) menjadi Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM) “Akamigas” itu Ade mengajar sembilan mata kuliah setiap minggunya. Untuk pengabdiannya itu, ia rela pergi-pulang Bandung- Cepu setiap minggunya. Ia biasanya pulang ke Bandung menjelang akhir pekan, dengan menggunakan kereta api malam dari Cepu.
Selain mengajar, Ade ikut mengelola jurnal enam bulanan yang diterbitkan STEM Akamigas. Pada terbitan ilmiah yang diberi nama Jurnal ESDM dan mulai terbit sejak 2009 itu Ade ditunjuk sebagai ketua redaksi atau pemimpin redaksinya.
Kegiatan di dunia publikasi ilmiah tersebut bagi Ade tidak aneh lagi. Karena di dunia kegunungapian yang digelutinya kemampuan menulis menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tentu hal tersebut berkaitan dengan upaya membuat laporan dari berbagai kegiatan yang ditugaskan kepadanya. Karena itu, sejak awal menjadi ahli gunung api, Ade mulai menulis. Pada 1981, Ade bersama H. Djuwarna menerbitkan Laporan Kemajuan I Pemetaan Geologi Daerah Gunung Galunggung.
Berbagai makalah pun ia tuliskan untuk kepentingannya untuk menyajikan pengalaman dan penemuannya di hadapan beberapa perhelatan ilmiah yang diselenggarakan organisasi-organasasi ilmiah yang diikutinya. Dalam hal ini, Ade tercatat sebagai anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), International Association of Volcanology and Chemistry of Earth Interior (IAVCEI, sejak 1995), World Organization of Volcano Observatory (WOVO, sejak 1995), Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), dan Ikatan Ahli Panas Bumi Indonesia (IAPBI, sejak 2001).
Makalah-makalah yang ditulisnya untuk perhelatan ilmiah itu antara lain, “Kegempaan Sesudah Letusan Gunung Usu, Jepang, 1977, dan Gunung Galunggung, Indonesia, 1982” yang dimyuat dalam Prosiding PIT XII IAGI (1983), “Letusan Galunggung 1982-1983” yang dimuat dalam Kumpulan Makalah Hasil Penyelidikan Direktorat Vulkanologi (1986), “Evolution of the 1990 Kelut Eruption Energy Based on the Volume of Ejected Volcanic Materials” yang ditulisnya bersama L. Hendrajaya dan dimuat dalam Proceeding 17th HAGI Anual Scientific Meeting (1992), “Volcanic Hazard Mapping in Indonesia” bersama Rudy Bacharudin dan disajikan pada Ninth Regional Congress on Geology, Mineral, Energy Resources of Southeast Asia (1998), dan “Management of Volcanological Disaster in Indonesia” dalam Proceeding of the 2nd International Conference on Disaster Management (2002).

Selain itu, sendirian atau bersama penulis lain, Ade sering menulis untuk jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Tulisan yang dibuatnya bersama penulis lain pernah dimuat dalam jurnal Chemical Geology, Netherlands Journal of Sea Research, serta Journal of Applied Geodesy (Volume 2, Issue 3, 2008: 167–177) yang memuat tulisan “Land subsidence characteristics of the Bandung Basin, Indonesia, as estimated from GPS and InSAR” yang ditulisnya bersama H. Z. Abidin, H. Andreas, M. Gamal, D. Darmawan, T. Deguchi, dan Y. Maruyama.
Sejumlah tulisannya yang tersebar di berbagai terbitan ilmiah dan prosiding itu kini dikumpulkan dalam bunga rampai berjudul, Gunung Api: Ilmu dan Aplikasinya (2012). Kegiatannya sekarang sebagai tenaga pengajar, tentu, kian mengeratkan Ade dengan dunia tulis-menulis. Apalagi kini dia ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Jurnal ESDM yang diterbitkan oleh STEM-Akamigas.
Dari perjalanan karier Ade selama puluhan tahun, terlihat bahwa perannya sebagai ahli gunung api sangat bergantung pada pembacaannya atas batuan yang ada di dalam dan di atas permukaan bumi. Berbekal pengalaman dan penalarannya dalam upaya menjejaki batuan, Ade dapat disebut perawi gunung api. Ia senantiasa mempehatikan asal-usul batuan yang ia temukan di lapangan. Setelah itu, akan ia jelaskan pertautan batuan dengan kejadian yang dialami gunung api.
Dengan merawikan batuan ke gunung api dan mewujudkannya dalam peta geologi, Ade menggarisbawahi pentingnya mitigasi sejak dini. Karena itu, setelah peta gunung api dibuat, maka untuk kepentingan orang banyak, Ade menggagas museum kegunungapian dan museum kegeologian lainnya untuk membangkitkan kesadaran khalayak atas arti ilmu kebumian sekaligus konsekuensi hidup di Indonesia yang aspek kegeologiannya sangat beragam dan sangat mengandung risiko.

Penulis: Atep Kurnia

Pewawancara: Oman Abdurahman, T. Bachtiar, Hawe Setiawan, Atep Kurnia Fotografer: Deni Sugandi
http://geomagz.geologi.esdm.go.id/category/s4-profil/c25-profil/

Jadikan media ini menjadi bagian dari kebutuhan anda, with us we can do more

  • Kirim ke: 4nashmedia@gmail.com

  • Berbagi Berita, Cerita, Kisah

  • Berbagi Inspirasi