Breaking News

Adjat Sudradjat Tinggi Gunung Selaksa Karya


Lahir dan tumbuh di dataran tinggi Priangan, bentang alam yang dikitari gunung-gunung api yang elok sekaligus menggentarkan, Adjat Sudradjat telah membuktikan kesanggupan, daya tahan, dan keuletan menempuh perjalanan hidup dan karier hingga ke titik-titik puncaknya. Sebagai pendidik, ia mencapai kedudukan guru besar. Dalam administrasi pemerintahan, ia pernah memegang jabatan direktur jenderal (dirjen). Sebagai ilmuwan, ia menguasai seni menggali dan menyampaikan pengetahuan kepada khalayak, baik akademis maupun umum, terutama melalui berbagai karya tulis.
Tulisan-tulisan guru besar emeritus Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran ini tidak melulu bernuansa akademis melainkan pula bernuansa sastra. Di tangannya, fakta dan pengalaman tidak jarang dituangkan ke dalam wadah cerita tempat imajinasi turut memungkinkan pengetahuan menjadi lebih hidup, lebih nyata, lebih membekas di benak pembaca. Dengan kata lain, pada sosok dan karya Profesor Adjat terlihat sebentuk persenyawaan antara ahli geologi, pendidik, dan penulis yang baik.
Semua itu, agaknya, bermula di kaki gunung api, gejala alam yang menjadi salah satu bidang keahliannya yang utama.

 Dari Kaki Galunggung ke Jakarta
Adjat lahir di kaki Gunung Galunggung, Tasikmalaya, pada 14 Januari 1942. Ayahnya, H. Ahdi Sumartadipura, berasal dari Tasikmalaya dan ibunya berasal dari Rangkasbitung, Banten. Ahdi bekerja sebagai mantri guru yang tempat tugasnya berpindah-pindah dari satu ke lain desa di sekitar daerah yang dulu dikenal sebagai “Sukapura” itu.

Adjat menempuh pendidikan dasar dan menengah di tanah kelahirannya. Pada 1960, ia memasuki Bagian Teknik Geologi, Departemen Teknologi Mineral, Institut Teknologi Bandung (ITB). Semasa kuliah, Adjat sempat menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ITB GEA (1962 sampai 1964) dan Senat Mahasiswa ITB.
Sejak kuliah pula, ia mulai meniti karier. Mula-mula pada tahun 1962, ia menjadi asisten dosen di ITB dan Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP) untuk memberikan mata kuliah Geomorfologi dan Potret Udara. Kemudian sejak Januari 1963, ia mulai bekerja di Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan, yang memberinya beasiswa ikatan dinas.
Gelar sarjananya diraih dengan predikat cum laude pada bulan Mei 1965. Setelah menyelesaikan studinya, Adjat mengikuti pelbagai kegiatan seperti pemetaan geologi tata lingkungan Jakarta dan sekitarnya yang menghasilkan Peta Geologi Tata Lingkungan Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi berskala 1:100.000, ekspedisi Baruna II yang menjelajahi perairan Indonesia.

Adjat melanjutkan studinya di bidang survei udara di International Institute for Aerial Surveys and Earth Sciences di Delft, Belanda, pada 1969-1971. Dari lembaga itu, Adjat memperoleh gelar diploma dalam bidang Photo-interpretation for Geology dan ijazah Master of Science in Photogeology. Selanjutnya, ia mengikuti berbagai kursus penginderaan jauh, di antaranya di Bakosurtanal, Universitas Filipina, dan di Earth Resources Observation System Data Center, Sioux Falls, South Dakota, Amerika Serikat.
Setelah menjabat sebagai Kepala Seksi Geologi Potret, Adjat kemudian menjadi Kepala Sub-Direktorat Vulkanologi (1976). Dan dengan terbitnya Keppres No. 15 Tahun 1978, Direktorat Geologi dikembangkan menjadi empat unit, yaitu Direktorat Sumberdaya Mineral, Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Direktorat Vulkanologi, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Keempatnya berada di bawah Direktorat Jenderal (Ditjen) Pertambangan Umum. Dalam pemekaran tersebut, Adjat menjadi direktur pertama Direktorat Vulkanologi.
Di sela-sela kesibukannya sebagai Direktur Vulkanologi (kini: PVMBG, Badan Geologi) dan dihadapkan pada Gunung Galunggung yang saat itu sedang krisis, Adjat dapat menyelesaikan studi doktoralnya pada 1982. Dalam Pendidikan Program Doktor di ITB sejak 1976 itu, ia meneliti hubungan penginderaan jauh dengan teori lempeng tektonik.
Hasil penelitiannya dia tuangkan dalam disertasi berjudul “Aplikasi Teknik Penginderaan Jauh dalam Penyelidikan Geologi Lembah Palu, Sulawesi Tengah” Sidang terbuka Senat ITB untuk mempertahankan disertasi itu dilaksanakan pada 2 Oktober 1982 di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Jalan Surapati 1, Bandung. Hasilnya, Adjat lulus meraih gelar doktor dengan yudisium sangat memuaskan (cum laude).
Pada 1988, Adjat diangkat menjadi Sekretaris Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral (GSDM). Setelah itu, ia menjabat sebagai Dirjen GSDM (1989- 1997) dan Dirjen Pertambangan Umum (1997-98). Selain itu, Adjat pernah menjadi Staf Ahli Menteri Bidang Energi dan Komisaris Utama di PT Aneka Tambang dan PT Tambang Batubara Bukit Asam, dan anggota Dewan Riset Nasional (sejak 1993).

Di bidang pendidikan, Adjat pernah menjadi dosen luar biasa di ITB, jurusan geologi Unpad, Fakultas Pertanian Unpad, Universitas Trisakti, Fakultas Geografi Gadjah Mada, AGP, dan Akademi Kehutanan Jawa Barat. Mata kuliah yang diberikannya adalah geologi, penginderaan jauh, dan vulkanologi.
Di luar negeri, Adjat pernah menjadi dosen tamu. Ia pernah mengajar di Universitas Kebangsaan Malaysia (1976), Universiteit Utrecht (Belanda), Durham University (Inggris), Universitas Tokyo (Jepang), dan International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation (ITC), Enschede (Belanda). Sejak tahun 1997, Adjat diangkat sebagai guru besar di Universitas Padjadjaran (Unpad) yang dijadikan tempat menyebarkan ilmu kebumiannya sejak 1965.
Dalam organisasi profesi, Adjat adalah anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Ia menjabat sebagai sekretaris IAGI kemudian terpilih sebagai ketua umum untuk dua periode (1979-1981). Ia juga menjadi anggota Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Ikatan Surveyor Indonesia (ISI), Persatuan Insinyur Indonesia (PII), dan Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia. Ia pun tercatat sebagai anggota American Association of Photogramametric Engineering, anggota National Geographic Society, Komite Eksekutif dari International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth Interior (IVCEI) dan  organisasi lainnya. Ia pun terpilih menjadi ketua panitia pengarah Organisasi Antar Pemerintah untuk Prospeksi Bersama di Lepas Pantai Asia Pasifik.
Ia mendapat lebih dari 80 tanda penghargaan. Di antaranya dari Circum Pacific Council for Energy and Mineral Resources, Kadin, Ikatan Alumni Lemhanas, BPPT, Fakultas Geografi Gadjah Mada, Universitas Trisakti dan Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi GEA-ITB. Juga, ia memperoleh lebih dari 15 sertifikat dan diploma latihan di dalam dan luar negeri.
Pada 17 Agustus 1991 Adjat memperoleh penghargaan Tanda Kehormatan Satyalencana Wirakarya dari Presiden Republik Indonesia
atas jasa-jasanya meningkatkan pemantauan gunung api untuk menekan ancaman bahaya letusan gunung api. Pada 17 Agustus 1995, Adjat memperoleh penghargaan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang besar terhadap negara dan bangsa Indonesia. Bersamaan dengan itu, Menteri Pertambangan dan Energi memberian Penghargaan Dharma Karya atas karya dan jasa-jasa Adjat di bidang pertambangan dan energi.
Selain itu, Adjat mendapat penghargaan Satya Karya Bhakti Kelas I dari Rektor Universitas Padjadjaran dan penghargaan dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) atas kepeloporannya di bidang vulkanologi.

Ikut Memetakan Bumi
Kegiatan pemetaan sebagai informasi dasar bagi pembangunan di Indonesia terhitung baru. Saat Belanda meninggalkan Indonesia, pemetaan geologi baru selesai 4,5 persen. Selama penjajahan Jepang dan setelah kemerdekaan sampai tahun 1968 angka itu tidak berubah. Bahkan, 94,5 persen daerah yang belum terpetakan di Indonesia dianggap merupakan daerah yang baru diketahui geologinya secara regional dan daerah terra incognita (tanah yang tidak dikenal). Pada awal kemerdekaan sampai dengan
tahun 1968, karena keterbatasan tenaga dan sarana, tidak banyak dilakukan kegiatan pemetaan dan penyelidikan geologi.

Memasuki tahun 1969, semua kegiatan pemetaan, penyelidikan dan penelitian di bidang geologi diselenggarakan dengan sistem pembangunan lima tahunan (PELITA). Kebijakan pemerintah pada waktu itu didasari oleh GBHN, yang pada intinya menghendaki adanya percepatan pembangunan di segala bidang. Pada tahun itu pula, kegiatan pemetaan bersistem di bidang geologi dimulai Indonesia.
Dalam kegiatan monumental itu, Adjat ikut terlibat. Pertama-tama, ia terlibat sebagai anggota tim pelaksanaan pemetaan geologi bersistem. Dia ikut memetakan daerah Pulau Sumbawa dan Kalimantan Tengah antara 1967-1976. Di balik pemetaan tersebut tersembul pengalaman yang menantang, menggembirakan, membuatnya lucu, dan juga sedih.
Di Sumbawa, Adjat dan kawan-kawan mengandalkan kuda sebagai sarana transportasi ke hutan-hutan. Perjalanannya menerobos hutan lindung yang dikelola Departemen Kehutanan. Dia melintasi hutan lebat, dari Taliwang di Pantai Barat, melintasi Batu Hijau yang kini menjadi pertambangan besar, sampai ke Lu

MENCARI EMAS DI KALIMANTAN. Sungai merupakan urat nadi menuju ke pedalaman Kalimantan. Satu-satunya cara melewati jeram adalah dengan mengangkat perahu. Dalam gambar tampak suasana yang menegangkan ketika rombongan pemetaan geologi sedang melintasi salah satu jeram di Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Selain Adjat Sudradjat sebagai Ketua Tim, ikut pula mahasiswa antara lain Nana Sulaksana (sekarang Dr. Ir. Nana Sulaksana, Ketua Program S-3 Geologi Unpad) dan Bagus Setiardja (Ir. Bagus Setiardja, SH MH, mantan Direktur Utama Pertamina Hulu). Produk yang dihasilkan berupa Peta Geologi Lembar Tewah, 1:250.000, peta pertama sistematik di Kalimantan. Lukisan dan teks: Adjat Sudradjat, kanvas, cat minyak, 90 x 60 cm.
nyuk, tempat transmigrasi. Dari situ, Adjat dan kawan-kawan balik arah ke utara sampai ke Sumbawa Besar. Perjalanannya sendiri berlangsung sekitar lima hari lima malam.
Namun, dari perjalan di Sumbawa itu ada yang membuatnya sedih. “Suatu ketika saya pernah terkejut bahkan menangis karena ada kuda yang melahirkan di perjalanan. Saat itu saya tidak tahu bahwa ada kuda yang sedang mengandung. Pemiliknya barangkali juga tidak tahu. Barangkali karena kecil mengandungnya, sehingga tidak kelihatan. Dan perjalanannya terlalu lama. Habis turun dari Batu Hijau, rupanya kuda itu meregang terlalu kuat saat harus turun. Kuda itu akhirnya melahirkan ketika berjalan dan anaknya langsung mati. Ya, mungkin terlalu capai membawa beban. Itu kira-kira jam delapan malam, ketika kita sudah mau mencapai tempat yang rendah,” kenang Adjat.
Kesan kedua ada yang lucu. Katanya, “Dulu penerbangan ke Sumbawa itu adalah ‘Zamrud’, yaitu bekas pesawat Angkatan Udara, berjenis Dakota. Suatu ketika ada pesawat yang meleset, keluar landasan. Semua orang yang ada di dalam pesawat itu tidak berdaya. Yang lucunya, karena di sana banyak kuda, pesawat itu ditarik oleh tiga atau empat kuda.”
Ketika melakukan pemetaan di Kalimantan Tengah antara 1973-1976, Adjat merasa tertantang. Di sana, pemataan tidak dapat dilakukan kecuali melalui Sungai Rungan yang melintas sampai Palangkaraya. Dari Banjarmasin lewat parit atau anjir, terus ke hulu sampai ke Palangkaraya aliran sungai tidak ada jeram. Namun, dari Palangkaraya ke hulu hingga ke perbatasan Kalimantan Barat, terus-menerus dijumpai jeram yang panjangnya 3-4 kilometer.
Untuk memetakan daerah di sana, Adjat dan kawan-kawan menyewa perahu penduduk, yang disebut tingting. Di sana ia kadang-kadang menyaksikan perahunya naik ke pundak orang yang mengemudikannya, karena harus melalui jeram yang agak tinggi. “Kita harus turun dari perahu, kemudian loncat-loncat melalui bebatuan, dan perahunya dipundak, dan kemudian didorongkan lagi ke sungai, begitu seterusnya,” ujar Adjat.
Selain itu, selama di sana, Adjat dan kawan-kawan hanya berkemah. Kalau kebetulan sedang senggang, kadang-kadang ikut menginap di rumah panjang masyarakat Dayak, rumah Betang. Namun, ia tak terlalu betah diam di situ. Ia lebih memilih berkemah. Biasanya setelah menelusuri sungai hingga sore hari sekitar jam 3 hingga 4, perjalanan dihentikan dan kemudian memasang flying camp.
Bukannya menginap di rumah betang, Adjat dann kawan-kawan lebih memilih berkemah di sekitar bekas ladang temporer, karena bila berkemah di dekat sungai berisiko terkena banjir yang meluap dari sungai. “Kalau ada dangaunya, kita bikin kemah di dalam dangau. Tapi di sana kita harus hati-hati karena bisa jadi ada kalajengking atau binatang lain. Jadi, lebih baik di luar sekalian,” kata Adjat.
Sementara itu, waktu yang tersedia untuk menuliskan laporan perjalanan dan pengamatan di lapangan biasanya hanya antara jam 16.00 hingga 18.00. Pagi-pagi rombongan harus sudah berangkat lagi.
Selama pemetaan di Kalimantan, Adjat dan kawan-kawan harus berhadapan dengan “si penghisap darah”, pacet atau lintah, yang betah tinggal di jatuhan daun-daun. Selain lintah, ada juga ancaman malaria yang sering berbuntut panjang. Saat di Kalimanyan itupun Adjat sudah melihat ada sedikit-sedikit orang yang melakukan pembalakan hutan. Namun, belum pembalakan itu belum termasuk penebangan yang habis-habisan.
Penjelajahannya di Sumbawa menghasilkan Peta Geologi Tinjau Pulau Sumbawa 1:250.000, sedangkan di Kalimantan Tengah men ghasilkan Peta Geologi Lembar Tewah dan Purukcahu dengan skala yang sama.
Pemetaan geologi bersistem dapat diselesaikan seluruhnya pada tahun 1995. Peta yang mencakup wilayah seluas 5,2 juta kilometer itu diselesaikan selama 25 tahun. Dengan status pengerjaannya pada Pelita I baru selesai 6%, Pelita II: 22%, Pletia III: 41%, Pelita IV: 66%, Pelita V: 96% dan Oktober 1995 seluruhnya selesai. Setiap lembar petanya mencakup luas 165 x 110 kilometer persegi (1:250.000) dan 55 x 55 kilometer persegi (1:100.000). Seluruhnya peta itu berjumlah 239 lembar, yang terdiri dari skala 1:100.000 yaitu untuk Pulau Jawa sebanyak 58 peta dan untuk pulau lainnya dengan skala 1:250.000 sebanyak 181 peta.
Penyelesaian peta seluruh Indonesia ini merupakan kerja keras dan pengorbanan para ahli geologi baik yang berada di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sekarang), di perguruan tinggi, maupun di lingkungan industri pertambangan. Hasil kompilasi peta itu dipresentasikan oleh Adjat Sudradjat selaku Dirjen GSDM di Istana Negara di hadapan Presiden Soeharto dan para menteri, pada 9 Januari 1996.
Pada waktu itu, Soeharto melakukan penandatanganan prasasti. Kemudian Menteri Pertambangan dan Energi pada waktu itu, I.B. Sudjana menyerahkan seluruh peta geologi Republik Indonesia kepada Presiden Soeharto. Saat itu Soeharto mengemukakan bahwa peta tersebut tidak perlu dirahasiakan, bahkan kalau mungkin dijual, sehingga kekayaan alam yang dikandung Indonesia diketahui secara luas.
Saat peresmian peta itu, perasaan Adjat bercampur baur. Rasa sedih, senang, bangga bercampur aduk. Katanya, “Sedihnya itu kok saya bisa melewati satu stage yang bisa mengumpulkan semua \orang, sehingga bisa sepakat dan mau dipaparkan. Saat itu ada ratusan lembar peta yang dikerjakan oleh banyak orang yang latar pendidikannya berbedabeda dan punya cara berbeda-beda, sehingga bisa menyebabkan percekokan yang sangat keras. Di situ, saya merasa seolah-olah meminta orang setengah dipaksa supaya resonansinya mau disamakan dengan temannya yang lain. Di situ saya merasa mengurangi hak orang, saat peta hasil karya mereka harus disatukan dan diterbitkan.”
Di sini Adjat membandingkan pembuat peta dengan penulis buku. Menurutnya, pembuat peta sama haknya dengan penulis buku. Di dalam hal itu, kita sebenarnya tidak boleh ikut bercampur tangan. “Yang harus kita samakan itu ya standar-standarnya saja,” kata Adjat.

Mengakrabi Gunung Api

Pemetaan dengan gunung api sangat terkait. Dalam pandangan Adjat, Indonesia merupakan negara yang paling terancam oleh bahaya gunung api. Dengan seratusan lebih gunung api di negeri ini, Adjat mengajak kita semua selalu waspada. “Dalam hal gunung api, dengan mengetahui sifat-sifat gunung api sedikit banyak kita dapat mengetahui bahayanya dan dapat menyusun peta daerah bahaya. Dengan memanfaatkan peta daerah bahaya ini, maka kita dapat menghindari bahaya gunung api. Janganlah tinggal di daerah bahaya gunung api.”
Dalam hal manajemen di Vulkanologi dan penanganan terhadap gunung api yang sedang krisis, Adjat menerapkan prinsip satu komando. Hal ini diakuinya, “Kalau di Vulkanologi saya bisa keras. Hal tersebut dilakukan mengingat kepentingan rakyat. Kalau semua orang bicara, rakyat bingung. Kalau orang vulkanologi mau bicara, kita bicara internal saja. Jadi, saya sediakan forum. Boleh berdebat apa saja. Tapi suara yang ke luar untuk konsumsi publik, haruslah satu. Kalau keputusannya harus mengungsi, semua perintah haruslah tentang keharusan mengungsi.”
Saking mengedepankan kepentingan masyarakat, Adjat pernah memarahi orang yang mau mengubah peta daerah bahaya gunung api. Adjat melarangnya karena peta itu menjadi dokumen semua orang untuk melakukan tindakan-tindakan. Prinsip satu komando ini ia timba dari pengalaman yang terjadi di Nigeria. Negara di benua Afrika itu tidak punya ahli geologi. Ketika ada gunung api yang sedang krisis, ahli gunung api yang kebanyakannya orang asing di sana saling berdebat tidak habis-habisnya, sehingga rakyat bingung dan gunungnya keburu meletus.
Memang vulkanologi itu harus murni berpihak pada kepentingan masyarakat. Di sini peran ahli gunung api khususnya, menurut Adjat, harus memberi masyarakat satu arah dan sasaran yang jelas. Kalau tidak demikian, masyarakat akan pecah, jalan sendiri-sendiri. “Jadi kita selalu menempatkan satu-dua langkah di depan masyarakat. Kalau kita hampir terkejar, kita harus melangkah lagi. Itulah yang saya coba lakukan. Saya ambil beberapa orang dan mengajak ahli gunung api untuk berpikir sebelum masyarakat tahu. Makanya jadi fokus. Kalau tidak begitu, maka yang terjadi adalah gosip,” katanya.
Selain itu, selama menjabat di Direktorat Vulkanologi, Adjat giat menggembleng para peneliti muda geologi. Hal ini antara lain diakui oleh Wimpy S. Tjetjep (Dari Gunung Api hingga Otonomi Daerah, 2002). Ia mengakui bahwa Direktorat Vulkanologi bisa menggodok dan membina warga Indonesia agar tangguh dan tanggap terhadap potensi kebumian di Indonesia.
Seperti Wimpy, ahli gunung api A.D. Wirakusumah (2013) pun mengakuinya. Saat lelaki yang akrab disapa Ade itu masuk ke Direktorat Vulkanologi pada 1980, Adjat menggagas kebijakan bagi sarjana baru yang masuk ke Direktorat Vulkanologi. Para pegawai baru itu, khususnya sarjana geologi, ditempatkan Sub Direktorat Pemetaan Gunung Api, khususnya Seksi Pemetaan Geologi Gunung Api.
Kata Ade, “Pemetaan geologi gunung api merupakan dasar dari kegunungapian. Bila pegawai baru sudah paham mengenai hal ini dan dapat menghasilkan penerbitan 2-3 peta geologi gunung api, si pegawai bisa saja pindah ke sub-direktorat lain di lingkungan Direktorat Vulkanologi, seperti ke Pengamatan Gunung Api, analisa gunung api, dan panas bumi atau terus menetap di pemetaan gunung api juga bisa.”

Selain itu, pada masa Adjat menjabat di Vulkanologi terjadi kemajuan luar biasa di bidang teknologi penyelidikan gunung api. Hal ini berkaitan dengan perubahan revolusioner di dunia kebumian pada tahun 1960-an. Akibat perubahan tersebut, aplikasi teknologi baru dalam monitoring gunung api di Indonesia sangat signifikan terasa pada tahun 1985. Karena itu, Adjat mengatakan, “era baru dalam penyelidikan gunung api di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu periode sebelum tahun 1960, antara 1960 – 1979, dan mulai 1979 saat aplikasi teknollogi moderen menjadi demikian berperan.”
Hal ini misalnya terlihat pada tahun 1980, Direktorat Vulkanologi meminta bantuan dari Asian Development Bank (ADB) untuk memperkuat kapasitas kelembagaannya. Pada tahun 1985, ahli gunung api dari United States Geological Survey (USGS) dikontrak untuk membantu Indonesia mengembangkan teknologi monitoring gunung api sebagai realisasi dari program bantuan dari ADB. Ilmuwan kebumian dari Prancis juga ikut pula terlibat dalam proyek tersebut.

Hasilnya, kata Adjat, “Berbagai macam peralatan untuk memonitor gunung api di Indonesia menjadi tersedia. Dengan bantuan keuangan dari ADB itu, penyelidikan gunung api di Indonesia, khususnya monitoring gunung api, jadi mengikuti standar internasional.”
Selain itu, dengan Program Pinjaman ADB, tersedia pula kesempatan untuk mengembangkan sumber daya manusia ahli gunung api Indonesia. Saat itu ada 15 ahli gunung api muda yang diberi kesempatan untuk melanjutkan studi kegunungapian ke jenjang pascasarjana di Victoria University, Selandia Baru. Untuk studi doktoral tersedia pula kesempatan studi gunung api di Jepang dan Prancis.
Dalam masa kepemimpinannya juga, Adjat menggencarkan publikasi kegunungapian. Sejak tahun 1979, Buletin Vulkanologi dihidupkan lagi penerbitannya yang mati suri sejak 1961. Laporan seputar gunung api Indonesia kemudian bermunculan dalam publikasi khusus, Berita Geologi, Jurnal IAGI, Dutch Geological Survey Annual Report, Episode, Nature, Scientific Event Alert Network (SEAN) Bulletin, Journal of Japan Vulcanological Society, dan lain-lain.
Majalah populer dan koran pun dijadikan wahana untuk menyebarkan warta seputar kegunungapian Indonesia.
Dalam kariernya di vulkanologi, Adjat terlibat pada penanganan letusan Gunung Api Dieng (1979), Galunggung (1982), Colo (1983), dan Kelud (1989). Dia juga mengunjungi gunung-gunung api di Jepang, Filipina, Amerika Serikat termasuk Hawaii dan Hindia Barat. Secara umum, Adjat sudah mengunjungi paling tidak 78 gunung api aktif di Indonesia.

Tak Lelah Menyebarkan Informasi Kebumian
Takdir tulisan adalah merekam dan mengawetkan ingatan orang atas pengalaman, pikiran, dan perasaannya. Menyadari akan kemampuan tradisi tulis itu, Adjat Sudradjat sudah memulainya sejak dini. Sejak duduk di bangku kelas 3 SMP, ia sudah memuatkan cerpennya dalam surat kabar Pedoman. Kegiatan menulis cerpen untuk kalangan remaja pun pernah dilakukannya.

Hingga kini, ia telah menulis beberapa buku. Tulisan ilmiahnya sudah mencapai sekitar 100 tulisan. Sementara tulisan populernya yang dimuat di dalam majalah dan koran dan kadang-kadang menggunakan sandiasma atau nama pena A.S. Sumintadipura mencapai sekitar 120 tulisan.
Untuk ihwal tulis-menulis, Adjat mengidolakan buku karya guru besar Geologi Struktur dan Geologi Terapan pada Universitas Kerajaan Leiden, Belanda, Lamoraal Ulbo De Sitter (1902-1980). Dosen yang pernah bekerja di Indonesia pada perusahaan minyak Shell itu menulis Structural Geology (1956). Buku yang diidolakan Adjat ini beredar luas, termasuk di Indonesia. Menurut Adjat, buku ini memakai “bahasa Inggris yang mudah dipahami, cara penuturannya, dan satu yang paling menonjol, logikanya sangat memikat hati. Contoh dan analisis struktur yang dibeberkan dalam buku teksnya hampir semuanya dapat dijumpai di lapangan.”
Sementara, buku-buku yang ditulis Adjat lumayan banyak, antara lain: Seputar Gunungapi dan Gempabumi (tanpa tahun), Ilustrasi Geologi (1997), dan Teknologi dan Manajemen Sumberdaya Mineral (1999). Selain dalam bahasa Indonesia dan Inggris, Adjat juga menulis pula dalam bahasa daerahnya, Sunda. Di dalam bahasa Sunda, nampak Adjat berupaya untuk lebih mempopulerkan kebumian ke dalam ranah budaya Sunda atau ikut berupaya meluaskan fungsi bahasa Sunda. Dengan menulis ilmu kebumian dalam bahasa Sunda, Adjat ikut andil dalam memperluas fungsi sosial bahasa Sunda yang selama ini terkesan hanya berkutat dalam bidang sastra dan seni Sunda.
Dalam bahasa Sunda, Adjat menulis di majalah Sunda dan buku berbahasa Sunda. Di media Sunda, Adjat pernah mengumumkan tulisannya di majalah Baranang Siang yang terbit di Bogor dan Bandung antara 1964-197. Di majalah itu, dengan menggunakan nama pena, ia pernah menulis pengalamannya mengikuti Ekspedisi Baruna yang mengarungi lautan ke wilayah Timur Indonesia. Demikian pula dalam majalah Mangle, Cupumanik, dan Sunda Midan, Adjat sering menulis.
Tulisannya yang berjudul

“Gunung di Tatar Sunda” yang sebelumnya pernah dimuatkan dalam majalah Sunda Cupumanik edisi Oktober 2009 meraih juara I Hadiah Sastra Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) untuk kategori esai 2009.
Selain artikel, terpaut dengan upaya mempopulerkan kebumian di ranah budaya Sunda, Adjat juga menulis buku berbahasa Sunda. Hingga kini, ia sudah menulis buku Didodoho Lahar: Lalakon Galunggung Bitu (2010), dan Wanoh ka Lakuning Jagat (2013). Melalui Didodoho Lahar, Adjat ingin menyampaikan mengenai aktivitas gunung berapi, khususnya gunung Galunggung yang disajikan dalam cerita berbingkai, yakni cerita yang dikemas dalam cerita. Buku ini layaknya novel, ada tokoh, alur, latar, tema, pesan, dan amanat. Pembaca dapat mendapat ilmu yang bermanfaat dengan alur cerita yang tidak membosankan. Karya ini pun dapat dijadikan panduan dalam mitigasi dan penanggulangan bencana.
Demikian pula dalam Wanoh ka Lakuning Jagat, yang menjadi pusat perhatiannya adalah pengaruh  alam fisik terhadap kehidupan manusia. Di sini Adjat yang memadukan pandangan seorang ahli geologi dengan pandangan budaya mengingatkan bahwa perilaku alam, seperti gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami; takkan bisa dicegah manusia. Namun, dengan mengenal alam, membaca isyarat alam, manusia sudah harus waspada terhadap proses alam yang akan muncul. Karya ini pun dapat dijadikan panduan dalam mitigasi dan penanggulangan bencana.
Hingga sekarang, Adjat yang menikah dengan Erna Suliantini Agustini dan mempunyai dua putri, yaitu Pikania Dewi dan Pandania Dewi, itu tetap aktif berperan sebagai penyambung “lidah” kebumian. Ia tetap aktif menulis, bahkan kian produktif. Satu per satu karya tulisnya diterbitkan dalam media berbahasa Inggris, Indonesia, dan Sunda, baik tulisan ilmiah maupun populer. Ia juga tetap aktif menyebarkan ilmu geologi di kelas kampus, seminar, kongres, ceramah, dan sebagainya.
Pengalaman Adjat memperlihatkan kearifan bahwa manusia dan alam harus harmonis. Dengan demikian, kita harus mengetahui keinginan alam. Bila pun terjadi bencana alam, maka hal tersebut harus dianggap sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dengan memahami sifat-sifat alam, bahaya bencana alam dapat diperhitungkan dan korbannya dapat ditekan sekecil mungkin. Kita harus senantiasa waspada dan selalu mengikuti kaidah-kaidah alam.
Penulis: Atep Kurnia, T. Bachtiar, dan Hawe Setiawan Pewawancara: T. Bachtiar, Hawe Setiawan, dan Atep Kurnia Fotografer: Deni Sugandi


Tidak ada komentar