Breaking News

A. Djumarma Wirakusumah Perawi Gunung Api


Ketika melihat sebongkah batu, mata awam tidak menangkap apapun selain bentuknya. Ada yang bulat, lonjong, persegi, pipih, dan sebagainya. Ukurannya kadang besar seperti raksasa, kadang kecil seperti gundu. Mata awam tidak awas pada keiistimewaan batu. Adapun mata ahli geologi mampu menentukan jenis bahkan sumber batuan yang biasa kita lihat itu.

Di mata ahli geologi, batuan bahkan menjadi semacam kunci ke masa lalu. Ungkapan tersebut ditimba dari ahli gunung api Achmad Djumarma Wirakusumah (59), yang sempat diwawancarai oleh tim Geomagz. Dari perbincangan di Bandung dan Cepu beberapa waktu lalu, tergambar pertautan antara batuan dan gunung api sebagai sumbernya. Bahkan tergambar pula kaitannya dengan peta geologi, peta rawan bencana, dan pendirian museum geologi.

Bagaimana pria kelahiran Bandung, 1 Januari 1954, itu berkenalan dengan gunung api? Ade begitu sapaan akrabnya, mulai tertarik oleh geologi karena cita-citanya hendak mencari pekerjaan di kota yang memberikan peluang untuk sering bepergian ke daerah.

Kebetulan, pada masa remajanya, Ade sangat dekat dengan pamannya, Hermia Patmaatmadja, yang mengajarkan aljabar. Sang paman yang mengajar di SMA BPI dan SMA 11 Bandung itu sering menanyakan perihal cita-cita Ade: Hendak melanjutkan ke sekolah mana? Pertanyaan tersebut terus berulang sekitar empat kali, dari sejak kelas 3 SMP hingga kelas 3 SMA. Akhirnya, setelah dipikirpikir dan dikonsultasikan ke sana-ke sini, tekadnya bulat, “Saya hendak masuk sekolah yang nanti kerjanya di kota tapi sering ke daerah.”
Mengenai geologi pun ia dengar mula-mula dari sahabatnya waktu SMA. Suatu saat ia pernah ngomong-ngomong dengan Sobur Koswara, sahabatnya waktu di SMA 5 Bandung. Kata sahabatnya itu ia terkesan dengan pamannya yang bekerja di bidang geologi. Katanya, pekerjaannya banyak pergi ke daerah.

Setelah Ade masuk ke Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1973 dan tinggal menunggu penjurusan, ia berbincang dengan pamannya mengenai geologi. Saat itu, kebetulan, ada pegawai Vulkanologi yang indekos di rumah bibinya, Nikmatul Akbar. Obrolan Ade dengan pamannya barangkali terdengar oleh Nikmatul. Dia pun kemudian sengaja datang ke rumah Ade untuk mengajak berbincang ihwal geologi. Obrolannya tidak jauh berbeda dengan yang diungkapkan oleh Sobur.

“Kemudian waktu ada penjurusan, kan jurusanjurusan yang bau-bau sering ke daerah itu, ada tiga, yaitu tambang, minyak, dan geologi. Saya jadi bingung. Tapi kemudian teringat ucapan Nikmatul Akbar mengenai geologi. Sehari menjelang penjurusan, akhirnya saya memilih geologi,” ujar lulusan ITB tahun 1979 itu.

Setelah lulus kuliah pada Oktober 1979, Ade melamar ke Caltex dan diterima. Namun, orang tuanya tidak setuju karena tempat kerjanya jauh dari rumah. Untuk menjajal keahliannya, ia juga sempat ikut dalam pemboran untuk membangun bendungan di Cepu dan Ngawi. Selama tiga bulan ia bekerja di lapangan dan belajar membor kepada tukang bor. Kemudian, karena ada lowongan, Ade masuk menjadi PNS di Direktorat Geologi sejak Maret 1980.

Di Lingkungan Geologi
Di lingkungan Direktorat Geologi sebenarnya Ade seharusnya masuk ke bagian geologi teknik. Hal itu berkaitan dengan skripsinya yang membahas Bendungan Wadas Lintang, Jawa Tengah. Namun, ia malah memilih menekuni kegunungapian, yaitu masuk ke Vulkanologi.

Namun, Ade punya alasan lain. Ia mengaku, “Saya selalu tertarik mencari bagian yang jarang dimasuki orang. Ditambah ada keinginan untuk sekolah lagi. Waktu itu, saya dengar di Vulkanologi bisa jadi banyak peluang. Akhirnya saya membelok ke Vulkanologi.”
Meski untuk urusan keuangan di bagian vulkanologi cenderung tetap, tidak “basah” seperti di bagian lainnya, tapi menurut Ade di situ banyak kerja sama dengan pihak luar. Dengan jalan kerja sama demikian, maka peluang untuk melanjutkan studinya sangat besar.

Saat masuk ke vulkanologi, Direktur Vulkanologi Adjat Sudrajat menggagas kebijakan bagi sarjana baru yang masuk ke situ. Para pegawai baru, khususnya sarjana geologi, ditempatkan di Sub- Direktorat Pemetaan Gunungapi khususnya Seksi Pemetaan Geologi Gunungapi. Ade menganggapnya sebagai kawah candradimuka, karena secara fisik memang paling berat, harus naik-turun gunung. “Namun,” menurut Ade, “Pemetaan geologi gunung api merupakan dasar dari kegunungapian. Bila pegawai baru sudah paham mengenai hal ini dan dapat menerbitan 2-3 peta geologi gunung api, si pegawai bisa saja pindah ke sub-direktorat lain di lingkungan Direktorat Vulkanologi, seperti ke Pengamatan Gunung api, analisa gunung api, dan panas bumi atau terus menetap di pemetaan gunung api juga bisa.”

Dari beberapa kali melakukan pemetaan, Ade pernah diangkat menjadi Kepala Tim Merapi. Kemudian saat itu ada kerja sama dengan USGS (United States Geological Survey) untuk menangani bencana Gunung Merapi, karena gunung ini sangat aktif, terkenal ke seluruh dunia, dan mempunyai tipe letusan khas. Karena menjabat sebagai Katim Merapi, Ade dilibatkan dalam kerja sama itu. Karena yang sehari-harinya terlibat dalam kerja sama itu adalah Sub-Direktorat Pengamatan Gunungapi, maka Ade pindah ke bagian itu pada 1982. Tugas utamanya kala itu adalah mengamati kegiatan gunung api di seluruh Indonesia terutama di Sumatra dan Jawa.

Untuk itu, Ade sering ditugaskan ke daerah yang bergunung api di Sumatra dan Jawa. Dari 129 gunung api aktif yang ada di Indonesia, hingga sekarang ia pernah menjajal 40% di antaranya. Ia pun pernah  mengunjungi hampir 90% dari 70 Pos Pengamatan Gunung Api di seluruh Indonesia. Selama itu, ia sering mengalami suka-dukanya. Ia sering bekerja sendirian di Pos Pengamatan Gunung Api di tempat terpencil selama beberapa lama. Demikian pula bahaya yang bisa jadi mengancamnya.
Keinginan untuk melanjutkan studinya mulai terbuka. Ia berkesempatan belajar di The International Institute of Seismology and Earthquake Engineering (IISEE) Tsukuba, Jepang, pada 1982. Ia lulus pada 1983, dengan mendapat gelar Diplome in Seismology (Dipl, Seis).
Dua tahun kemudian, Ade ditunjuk sebagai kepala tim peneliti dari pihak Indonesia pada Ekspedisi Snellius II (1984-1985). Ekspedisi ini ditujukan untuk meneliti kegeologian kawasan Indonesia timur (Busur Banda). Kerja sama ilmuwan Indonesia-Belanda ini
menjadi jembatan terciptanya kerja sama dengan negara lainnya. Juga menjadi salah satu mata rantai bagi Ade untuk melanjutkan studinya.

Hasil dari ekspedisi ini, paling tidak Ade bisa menulis empat tulisan ilmiah bersama peneliti Indonesia dan Belanda. Keempat tulisan tersebut adalah “The Sirung volcanic boiling spring: An extreme chloride-rich, acid brine on Pantar (Lesser Sunda Islands, Indonesia)” yang dimuat dalam Chemical Geology 76 (1989). Sementara tiga tulisan lagi dimuat dalam Netherlands Journal of Sea Research 24 (1989: 303-301), yaitu, “Volcanism and tectonics in the Eastern Sunda Arc, Indonesia,” “Spatial Geochemical variations of arc volcanism around the Banda Sea,” dan “Geochemistry of Hot Springs and Fumarolic gasses from the Banda Arc.”

Kesempatan kedua untuk belajar lagi datang dari beasiswa Asian Development Bank (ADB). Sejak 1987, ia tercatat sebagai mahasiswa S3 di Victoria University of Wellington, Selandia Baru. Di sana ia mendalami ihwal gunung api sampai lulus pada 1991.
Setelah kembali dari Selandia Baru, Ade sempat ditempatkan lagi di Direktorat Pemetaan sebagai Kepala Seksi Pemetaan Geologi. Kemudian Kepala Sub-Dit Pemetaan Gunung Api dan juga Kepala Sub- Dit Analisa Gunung Api. Pada 1999 Ade diangkat menjadi Direktur Vulkanologi hingga 2004. Pada 2004-2008, ia menjabat sebagai Direktur Tata lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan. Terakhir, sejak 2008 hingga 2012, Ade menjadi Kepala Pusat Survei Geologi.
Secara keseluruhan, Ade pernah menjabat sebagai direktur atau kepala pusat di tiga bagian yang berbeda di lingkungan Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral yang kemudian berubah menjadi Badan Geologi sejak 2008. Di lingkungan tersebut, dialah orang pertama yang pernah menjabat sebagai kepala pusat di tiga bagian yang berbeda.
Selain itu, selama kariernya di dunia kegunungapian, Ade pernah mengikuti mitigasi bencana letusan gunung api, antara lain saat letusan Gunung Galunggung (1982), Gunung Colo (1983), Gunung Merapi (1984 dan 2001), serta letusan Gunung Papandayan (2002). Gunung Usu, Gunung Aso, dan Gunung Unzen di Jepang, Gunung St Helens di Amerika Serikat, serta Gunung Colima di Meksiko, Gunung Tarawera dan Ruapehu di Selandia Baru pernah didaki dan diselidikinya.

Stratigrafi Gunung Api
Pengalaman Ade selama bergelut dengan gunung api melahirkan pemikiran baru di bidang pemetaan gunung api. Sejak melakukan pemetaan untuk pertama kalinya pada 1983 di Gunung Merapi, ia merasakan adanya yang kurang dalam pemetaan gunung api.

“Karena sedikit kami dibagi-bagi oleh Kepala Seksi Pemetaan Pak Edi Kasidi. Waktu itu cara kerjanya masih ke sana-ke sini. Campur baur, ada yang berdasarkan pada ini dan pada itu. Anak-anak muda dibiarkan untuk mengeksplorasi cara memetakan gunung api. Dan waktu itu ilmu gunung api masih baru, baik di Indonesia maupun dunia,” kenang Ade.
Memang, saat itu pemetaan geologi dilakukan dengan menggunakan metode lama. Pada 1970-an kegiatan itu menggunakan cara pemetaan geologi bersistem. Pada 1980 pemetaannya dilakukan dengan cara pemetaan khusus bagian gunung api. Batas lembarannya ditentukan berdasarkan sebaran batuan/endapan gunung api yang dipetakan.

Menurut Ade, saat itu orang memetakan gunung api seperti memetakan aspek geologi yang lain, yakni dengan menggunakan metode litostratigrafi, berdasarkan sedimentasi batuan. Sehingga di dalam pemetaannya mengenal istilah formasi, yang didasarkan pada endapan paling jelas yang nampak di suatu daerah. “Tetapi,” kata Ade, “Di gunung api itu tidak didasarkan pada formasi, melainkan dari sumber mana dia diletuskan, jenis batuan apa yang diletuskan, dan bagaimana terjadinya atau genesanya.”
Karena itu, setelah mencari-cari model pembuatan peta geologi baru, Ade bersama-sama dengan Rudy Bacharudin, Sujanto, dan Sutikno Bronto menggagas stratigrafi gunung api (volcano stratigraphy) pada 1986.
“Cara kerja stratigrafi gunung api dimulai dari puncak kemudian terus menurun ke bawah. Di puncak bisa melihat ke bawah, kiri-kanan, ke depan-belakang. Sehingga pemandangan dan penyebarannya jadi luas. Di atas itu, masalah gunung demikian kompleks untuk menerangkan bagaimana sejarah pembentukan gunung api itu. Ke bawahnya tinggal menelesuri apa yang terjadi di puncak,” jelas Ade.
Lebih jauh dia menjelaskan bahwa pada hakikatnya, metode baru pemetaan gunung api itu terkait dengan jenis batuan, sumber letusan, dan genesa gunung api. Jadi, menurutnya, “Kalau kita menemukan sebongkah batu, dalam volcano stratigraphy, akan tertuju kepada dari mana asalnya. Karena batu adalah cerminan dari hasil letusan pada saat meletusnya gunung api di waktu tertentu. Sekarang, kita memetakan dan menemukan batu. Nah, batu itu kita terjemahkan bahwa waktu dulu
pada suatu saat tertentu gunung itu pernah meletus yang cara meletusnya tertentu dan hasilnya ke sini. Dan dikonfirmasi dengan foto udara, bahkan sekarang dengan citra. Dengan urutan tersebut, kita jadi tahu karakteristik letusan gunungnya. Karakteristik gunung api itu dapat dipelajari dari peta geologi gunung api.”

Dari volcano stratigraphy, menurut Ade, kita jadi tahu urutan pembentukan gunung api. Sesudah itu baru aplikasi. Dengan mengetahui urutan itu, kita jadi tahu karakteristik gunung api tersebut. Berbekal peta geologi, kita dapat memetakan peta kawasan rawan bencana gunung tersebut.
Pengetahuan mengenai stratigrafi gunung api ini digunakan oleh Ade saat dia menyusun disertasi doktoralnya di Victoria University of Wellington, Selandia Baru. Judulnya Some Studies of Petrology, Volcanology and Structures of Mt. Kelut, East Java, Indonesia (1991). Metode ini pun diajarkan pada para pegawai baru pemetaan geologi dan beberapa universitas yang pernah mengangkat Ade sebagai dosen luar biasa yang mengajarkan ilmu gunung api.

Menggagas Museum Kegeologian
Selama berkiprah di dunia kegeologian, Ade mempunyai gagasan yang terkait dengan penyebaran informasi kebumian secara populer kepada masyarakat Indonesia. Dalam hal ini Ade mencetuskan pendirian museum gunung api, memprakarsai pendirian museum kars, museum tsunami, dan pemasangan panel informasi kegunungapian.

Gagasan museum gunung api muncul saat Ade belajar di Jepang (1982-1983). Di sana dia melihat museum gunung api Aso di Pulau Kyushu dan Gunung Usu di Pulau Hokkaido. Ade merasa kagum sekaligus terinspirasi untuk mendirikan museum sejenis di Indonesia, mengingat Indonesia berada di alam geologi yang sangat kompleks termasuk kebencanaan geologinya.
“Ide pembangunan museum gunung api ini adalah dengan tujuan mempromosikan Indonesia melalui keberadaan gunung api. Selain itu, memberikan informasi kepada masyarakat luas terutama para wisatawan tentang kegunungapian bukan hanya dapat dinikmati keindahannya saja tetapi juga tahu bagaimana itu bisa terjadi, sehingga menjadi wisata bernuansa edukasi di bidang gunung api,” jelasnya.
Untuk mewujudkan museum gunung api itu terbilang panjang. Sekembalinya dari Jepang, ide itu disampaikan kepada para petinggi Direktorat Vulkanologi dan Departemen ESDM. Pada 1986, Direktur Vulknalogi Adjat Sudradjat pernah mendiskusikan hal ini dengan Menkokesra Azwar Anas. Demikian pula saat mengikuti Kursus Sepamen di LAN Jakarta pada 1999, Ade kembali mengutarakan idenya antara lain kepada Hary Santoso (Dephut) dan Tjakra Sudarsana (Depdagri).
Kemudian, saat ada PKL (Praktik Kerja Lapangan) ke Bali, Ade memasukkan proposal pembangunan museum gunung api di Indonesia yang salah satunya adalah Gunung Batur (Bali). Saat itu, bersama Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Bali Tjakra Sudarsana, ia menjelaskan proposal tersebut kepada Sekretaris Daerah Provinsi Bali yang kemudian menyetujui gagasan tersebut.
Pada saat yang bersamaan, Menteri ESDM Kuntoro Mangkusubroto dan Gubernur DI Yogyakarta Hamengkubuwono X mengagas ide yang sama. Saat itu Kuntoro sedang mengunjungi Bantul untuk memberi bantuan pengeboran air tanah.
Pembicaraan mengenai gagasannya muncul kembali pada 2002. Dalam perjalanan mengantar rombongan anggota DPR dari Denpasar ke lapangan panas bumi Buyan Beratan, Bali, Ade bersama Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Daya Mineral Wimpy S. Tjetjep, berkesempatan menyampaikan ide itu. Anggota perwakilan rakyat itu menyambut baik dan setelah kembali ke Jakarta, anggota DPR mengusulkan pembangunan museum gunung api di Indonesia kepada Menteri ESDM. Dari situ, keluarlah anggaran untuk pembangunannya dari APBN.
Kemudian, secara maraton, Ade menemui Bupati Sleman (Yogyakarta) Ibnu Subiyanto untuk membicarakan usulan pembangunan Museum Gunung Merapi dan kemudian Bupati Bangli I Nengah Arnawa dan wakilnya I Made Gianyar untuk membicarakan usulan pembangunan Museum Gunung Batur. Ternyata setelah melalui diskusi panjang lebar, kedua usulan tersebut sangat disetujui dan didukung masing-masing bupati dan anggota DPRD.

Sebelum museum di Sleman selesai, dibangun juga museum gunung api Merapi yang lebih kecil di Ketep, Kabupaten Magelang. Pembangunan ini merupakan wujud kerja sama antara Menteri ESDM dengan Gubernur Jawa Tengah. Museum di Ketep ini selesai dan diresmikan oleh Menteri ESDM pada 2003.
Sementara itu, pembangunan Museum Gunung Api Batur di Bali diresmikan Menteri ESDM pada 2007 dan Museum Gunung Api Merapi di Sleman diresmikan Menteri ESDM pada 2009. Bahkan pada September 2012, Kawasan Gunung Batur diakui lembaga PBB UNESCO sebagai anggota taman bumi dunia (Global Geopark Network). Tentu saja, keberhasilan ini tidak lepas dari terbangunnya Museum Gunung Api Batur.
Kesuksesan menggagas dan merancang museum gunung api bersambung dengan pendirian museum kars. Pada 2005, saat menjabat Direktur Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Ade ditugaskan untuk membangun Museum Kars di Wonogiri, Jawa Tengah. Pada 2010, museum ini rampung dibangun dan diresmikan Menteri ESDM.
Demikian pula saat menjabat sebagai Kepala Pusat Survei Geologi, Ade ikut memikirkan dan membangun materi peragaan museum tsunami yang saat itu sedang dibangun. Museum yang terletak di Banda Aceh ini selesai dan diresmikan pada 2011.
Kegiatan penyebaran informasi yang dilakukan Ade terus berlanjut. Sebagai ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Jawa Barat dan Banten, Ade bekerja sama dengan Dinas Kehutanan menggagas pemasangan panel informasi populer kegunungapian. Dengan panel tersebut, selain menikmati keindahan pemandangan wisatawan juga mendapatkan informasi kegunungapian.
Panel tersebut berisi informasi kegunungapian Gunung Sunda-Gunung Tangkuban Perahu. Peresmian pemasangannya di mulut Gua Belanda, Dago Pakar, Bandung Utara, oleh Ketua Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Pengurus Daerah Jawa Barat dan Banten pada 2011.

Kegiatan Kini
Meski secara struktural telah pensiun dari lingkungan Badan Geologi, tapi kegiatan Ade untuk menyebarkan ilmu gunung api yang menjadi keahliannya tidaklah berhenti. Kini, ia mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM)-Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas), Jl. Gajah Mada No. 38 Cepu, Blora, Jawa Tengah.

Di perguruan tinggi yang ada di bawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di itu sejak Februari 2012 Ade mengajar ilmu kegunungapian termasuk panas bumi. Di balik keputusannya untuk kembali ke kampus adalah, “Agar masyarakat dapat mengantisipasi kegeologian termasuk segala bentuk bencana geologi yang terjadi khususnya bencana yang disebabkan oleh gunung api.”
Disebut kembali ke kampus sebab sudah lama ia aktif berbagi ilmu kebumian di perguruan tinggi. Sejak 1994 ia menjadi dosen luar biasa mata kuliah Vulkanologi di Jurusan Geologi, Universitas Padjajaran. Selain itu, ia pernah mengajar di Universitas Hasanudin (Makassar), Institut Teknologi Bandung (Bandung), Universitas Diponegoro (Semarang), Universitas Sriwijaya (Palembang), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Sebagai dosen, Ade terlibat sebagai pembimbing penelitian akhir mahasiswa untuk tingkat sarjana di Universitas Padjajaran dan pasca sarjana ITB. Demikian pula sebagai penguji, ia pernah menjadi penguji untuk S3 di ITB.
Sekarang di perguruan tinggi yang sejak 2013 berubah statusnya dari Akademi Minyak dan Gas Bumi (Akamigas) menjadi Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM) “Akamigas” itu Ade mengajar sembilan mata kuliah setiap minggunya. Untuk pengabdiannya itu, ia rela pergi-pulang Bandung- Cepu setiap minggunya. Ia biasanya pulang ke Bandung menjelang akhir pekan, dengan menggunakan kereta api malam dari Cepu.
Selain mengajar, Ade ikut mengelola jurnal enam bulanan yang diterbitkan STEM Akamigas. Pada terbitan ilmiah yang diberi nama Jurnal ESDM dan mulai terbit sejak 2009 itu Ade ditunjuk sebagai ketua redaksi atau pemimpin redaksinya.
Kegiatan di dunia publikasi ilmiah tersebut bagi Ade tidak aneh lagi. Karena di dunia kegunungapian yang digelutinya kemampuan menulis menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tentu hal tersebut berkaitan dengan upaya membuat laporan dari berbagai kegiatan yang ditugaskan kepadanya. Karena itu, sejak awal menjadi ahli gunung api, Ade mulai menulis. Pada 1981, Ade bersama H. Djuwarna menerbitkan Laporan Kemajuan I Pemetaan Geologi Daerah Gunung Galunggung.
Berbagai makalah pun ia tuliskan untuk kepentingannya untuk menyajikan pengalaman dan penemuannya di hadapan beberapa perhelatan ilmiah yang diselenggarakan organisasi-organasasi ilmiah yang diikutinya. Dalam hal ini, Ade tercatat sebagai anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), International Association of Volcanology and Chemistry of Earth Interior (IAVCEI, sejak 1995), World Organization of Volcano Observatory (WOVO, sejak 1995), Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), dan Ikatan Ahli Panas Bumi Indonesia (IAPBI, sejak 2001).
Makalah-makalah yang ditulisnya untuk perhelatan ilmiah itu antara lain, “Kegempaan Sesudah Letusan Gunung Usu, Jepang, 1977, dan Gunung Galunggung, Indonesia, 1982” yang dimyuat dalam Prosiding PIT XII IAGI (1983), “Letusan Galunggung 1982-1983” yang dimuat dalam Kumpulan Makalah Hasil Penyelidikan Direktorat Vulkanologi (1986), “Evolution of the 1990 Kelut Eruption Energy Based on the Volume of Ejected Volcanic Materials” yang ditulisnya bersama L. Hendrajaya dan dimuat dalam Proceeding 17th HAGI Anual Scientific Meeting (1992), “Volcanic Hazard Mapping in Indonesia” bersama Rudy Bacharudin dan disajikan pada Ninth Regional Congress on Geology, Mineral, Energy Resources of Southeast Asia (1998), dan “Management of Volcanological Disaster in Indonesia” dalam Proceeding of the 2nd International Conference on Disaster Management (2002).

Selain itu, sendirian atau bersama penulis lain, Ade sering menulis untuk jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Tulisan yang dibuatnya bersama penulis lain pernah dimuat dalam jurnal Chemical Geology, Netherlands Journal of Sea Research, serta Journal of Applied Geodesy (Volume 2, Issue 3, 2008: 167–177) yang memuat tulisan “Land subsidence characteristics of the Bandung Basin, Indonesia, as estimated from GPS and InSAR” yang ditulisnya bersama H. Z. Abidin, H. Andreas, M. Gamal, D. Darmawan, T. Deguchi, dan Y. Maruyama.
Sejumlah tulisannya yang tersebar di berbagai terbitan ilmiah dan prosiding itu kini dikumpulkan dalam bunga rampai berjudul, Gunung Api: Ilmu dan Aplikasinya (2012). Kegiatannya sekarang sebagai tenaga pengajar, tentu, kian mengeratkan Ade dengan dunia tulis-menulis. Apalagi kini dia ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Jurnal ESDM yang diterbitkan oleh STEM-Akamigas.
Dari perjalanan karier Ade selama puluhan tahun, terlihat bahwa perannya sebagai ahli gunung api sangat bergantung pada pembacaannya atas batuan yang ada di dalam dan di atas permukaan bumi. Berbekal pengalaman dan penalarannya dalam upaya menjejaki batuan, Ade dapat disebut perawi gunung api. Ia senantiasa mempehatikan asal-usul batuan yang ia temukan di lapangan. Setelah itu, akan ia jelaskan pertautan batuan dengan kejadian yang dialami gunung api.
Dengan merawikan batuan ke gunung api dan mewujudkannya dalam peta geologi, Ade menggarisbawahi pentingnya mitigasi sejak dini. Karena itu, setelah peta gunung api dibuat, maka untuk kepentingan orang banyak, Ade menggagas museum kegunungapian dan museum kegeologian lainnya untuk membangkitkan kesadaran khalayak atas arti ilmu kebumian sekaligus konsekuensi hidup di Indonesia yang aspek kegeologiannya sangat beragam dan sangat mengandung risiko.

Penulis: Atep Kurnia

Pewawancara: Oman Abdurahman, T. Bachtiar, Hawe Setiawan, Atep Kurnia Fotografer: Deni Sugandi
http://geomagz.geologi.esdm.go.id/category/s4-profil/c25-profil/

Tidak ada komentar