Breaking News

Lika-liku Perburuan LoA (Letter of Acceptance) Doktoral dari Profesor (Jerman)

Kontributor : Arif Luqman
ALHAMDULILLAH!!! Teriak sambil jingkrak2 dalam hati.
That’s what I feel when I got LoA from Professor. Gimana gak senengnya bukan main, perjuangannya nyari aja pontang panting jungkir balik berurai air mata (lebay dan dramatis.. hehe). Tapi jangan keburu menyimpulkan dulu kalau nyari LoA itu susah dan juga jangan cepat menyimpulkan kalau nyari LoA itu mudah. Everything needs process and it depends on your effort and fate.
Yang mau saya ceritakan disini adalah pengalaman saya dalam berburu LoA buat S3 di Jerman. Ya, sesuai dengan quote (bikinan sendiri) berbahasa inggris di atas, berburu LoA itu tergantung usaha dan NASIB (terutama LoA buat S3). Karena faktor nasib disini berpengaruh sangat besar dalam perburuan LoA, tapi setelah usaha sekuat tenaga pastinya.
Bicara tentang usaha, perburuan LoA ini “memaksa” saya untuk berusaha lebih dari biasanya. Kenapa?? Karena ketidaklinearitasan jurusan S1 dan S2 yang saya ambil. S1 saya mengambil jurusan Biologi di ITS sedangkan S2 saya mengambil jurusan Teknik Lingkungan di ITS juga (karena suatu hal jadi gak bisa ambil jurusan yang sama dengan S1). Nah karena nasib inilah yang membuat saya harus berusaha lebih dalam berburu LoA. Kenapa (lagi)?? Karena, untuk S3 (hampir) semua Profesor akan mengambil anak didik yang sudah sangat kompeten di satu bidang dimana salah satu parameter utama yang dilihat kelinearitasan jurusan yang diambil saat S1 dan S2.
Karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan mikrobiologi dan biologi molekuler maka saya memutuskan untuk mencari Profesor yang penelitiannya ke bidang tersebut. Jadi balik kucing ke bidang S1 saya dulu. Hehehe..
Kembali ke cerita perburuan LoA. Perburuan LoA diawali dengan melengkapi dokumen dan hal-hal yang biasanya akan diminta pada saat mencari LoA dari seorang Profesor. Hal-hal yang perlu dipersiapkan, misalnya :
  1. Akun skype. Akun skype ini sangat penting sekali sodara. Karena most of Professor will ask for online interview via skype.
  2. Scan ijazah dan transkrip nilai bahasa inggris.
  3. Surat rekomendasi. “biasanya” Profesor yang kita lamar akan minta surat rekomendasi minimal dari 3 orang yang mengenal kita. Seringnya dari pembimbing S1 dan S2 serta profesor lain.
  4. Motivation letter dan CV. Ini juga salah satu syarat yang sering diminta.
  5. Setifikat bahasa inggris. Sangat penting, tapi biasanya di awal profesor gak minta.
  6. Resume dari bachelor thesis dan master thesis dalam bahasa inggris.
  7. Research Proposal. Yang ini gak wajib sih, tapi lebih baik disiapin. Karena ada 2 tipe profesor, yang ngasih topik penelitian dan yang memberi kebebasa topik penelitian dari kita sendiri.
  8. Cover letter. Cover letter ini isinya kayak surat lamaran, harus singkat, padat, dan jelas karena profesor tidak akan punya waktu banyak untuk baca email kita. Takutnya kalau cover letternya kepanjangan malah dikira spam dan gak diperhatiin sama profesor yang kita lamar. Saya buat cover letter ini sebagai master yang dikosongin universitas tujuan dan nama profesornya.

Yak, syarat-syarat diatas termasuk dalam faktor usaha. Karena lengkap gaknya benar-benar tergantung dari kita. Selain hal-hal yang sudah saya sebutin di atas kita juga harus punya list Universitas yang diincar. This is very important!! Karena gak semua universitas punya jurusan/bidang yang kita minati dan juga gak semua universitas masuk listnya LPDP. Hehehe..

Lanjut. Perjuangan untuk mencari Loa baru dimulai. Perburuan LoA saya mulai dengan ngubek-ngubek web universitas buat nyari profesor dengan bidang penelitian yang saya minati. Setelah nemu yang bidangnya cocok, langsung saya kirimi cover letter yang telah saya buat sebelumnya tanpa ada attachment file apapun. Oke selesai. Hari pertama perburuan LoA saya melamar setidaknya 4-5 Profesor dari Universitas berbeda. Tugas selanjutnya?? Menunggu!

Sehari menunggu, masih belum ada jawaban. Keesokan harinya lagi. *Cetung* (bunyi notifikasi email masuk). Seneng banget dapet balasan email dari salah satu professor yang saya lamar. Gak sabar buka, dan klik. Isinya :
I’m sorry, I have no availabe PhD position for now. Best wishes for your future.”
Gleg!! Yak, kecewa tapi seneng. Kecewa karena penolakan dan seneng karena ada respon dari profesor yang dilamar. Perjuangan masih harus berlanjut sodara.

Hari-hari selanjutnya saya mengirim email ke beberapa profesor. Tiap hari 4-5 profesor saya kirimi email. Setidaknya ada lebih dari 50 profesor yang saya lamar (bukan mendramatisir). Dari sebanyak itu, yang merespon “cuma” kurang lebih 15 profesor dengan rincian : 12 profesor menolak dan “hanya” 3 memberi sinyal-sinyal positif. Penolakannya macam-macam, ada yang karena udah pensiun (udah pensiun kok masih ada di web universitasnya??), ada yang mau pensiun, gak ada posisi yang available, dll dkk dsb dst.

3 profesor yang memberi sinyal positif ini rincianya sbb :
  1. dari Universität Dusseldorf, Jerman.
  2. dari RWTH Aachen, Jerman
  3. dari Universität Tübingen, Jerman.

Professor pertama dari Dusseldorf. Pertama, profesor ini memberi respon sangat positif karena sedang ada posisi available untuk PhD student di grup risetnya. Beliau membalas email dengan menanyakan bidang spesifik yang saya minati, meminta surat rekomendasi, dan motivation letter. Selanjutnya baliau masih memberi respon dengan sinyal-sinyal positif yang lebih kuat #eak. Kemudian beliau meminta transcript S2 sementara (karena saat itu saya masih belum lulus S2). Email terkirim dan semakin harap-harap cemas. *Cetung* (bunyi notifikasi email masuk (lagi)). Klik. Isinya kira-kira :
“I’m sorry. Field that you have studied in your master degree doesn’t fit with our requirement. Hope you’ll find the most appropriate field for your doctoral.”
JLEB!!!! Gini ya sahitnya di PHP-in. Rasa sakitnya tu DISINI..!! *sambil nunjuk dada*
Yahhh.. Ini yang namanya nasib. Kalau emang gak rejeki masuk universitas ini ya gak akan bisa.

Rasa sakit di dada belum menguap tapi tekad untuk mendapat LoA memang tidak bisa dibendung (kalau yang ini memang sengaja didramatisir.. Hahaha). Selang sehari, saya kirim lagi email ke beberapa profesor. Dan mendapat balasan positif dari profesor dari RWTH Achen. Wihh… rasa optimis dan ge er langsung melambung. Secara, universitasnya Pak Habibie dulu. Beliau meminta jadwal untuk interview visa skype dengan menyebutkan jadwal dari beliau yang available untuk interview. Saya memiliki jadwal satu minggu setelahnya untuk persiapan materi dan mental. Materi meliputi pendalaman bidang yang akan ditekuni dan juga modem dengan provider internet yang jaringannya wuss wuss dengan cara nyari pinjeman modem sana-sini..Hehehe. Persiapan materi saya lakukan dengan mendalami jurnal-jurnal terbaru yang profesur tersebut publikasikan. Dari 4 jurnal yang saya baca, sudah merasa agak aneh dan curiga, semuanya kok berbau jamur-jamuran alias mikologi dan saya bukan peminat bidang ini. Akhirnya tiga hari sebelum interview saya memutuskan untuk bertanya via email mengenai fokus penelitian yang beliau lakukan saat ini. Dan beliau menjawab, ya tentang jamur. Pfft!!. Dengan berat hati dan malu saya membatalkan interview dengan profesor tersebut karena ketidaksesuaian bidang penelitian. Ini akibat saya gak teliti dalam menelusuri track record penelitian profesor yang akan saya lamar.

The last but not least. Profesor dari Universität Tübingen, Jerman. Balasan pertama dari profesor ini awalnya menolak dengan isi email kira-kira :
I’m sorry. We have no vacant position. You must have stipendium.
DEG!! Kecewa beberapa saat sebelumsaya baca lagi email beliau dan menemukan kata ajaib disana “vacant” dan “stipendium”. Masih ada harapan sodara! Saya memberanikan diri membalas email beliau dengan menyatakan bahwa posisi saya saat itu merupakan kandidat penerima beasiswa dari dikti (saya gak bohong). Beliau meminta bukti tertulis mengenai pernyataan saya tersebut dan saya kirim. Beliau juga meminta dokumen-dokumen yang diperlukan (seperti yg saya sebutkan di atas). Beliau membalas lagi,
The Dean needs your master certificate and transcript for the accpetance letter.”
Saya bingung karena belum punya ijazah dan transcript karena belum lulus S2. Tidak kehabisan akal, saya membalas lagi email beliau dan meminta LoA dari beliau sendiri terlebih dahulu. Dan beliau pun membalas :
That’s a good idea.“
Saya masih gak mudeng dengan balasan email pendek tersebut dan 5 menit kemudian beliau mengirim email lagi dengan satu file pdf attached. JRENG JREEENGG..!!! Ternyata file pdf tersebut adalah LoA sodara, iya LoA!!!! 😀 😀

Betapa bersyukurnya saya saat itu. Betapa gembiranya kita saat menemukan orang yang mau menerima kita apa adanya walaupun S1 dan S2 saya tidak linear, yg dalam hal ini orang tersebut adalah profesor yang saya lamar. Ini yang saya sebut faktor NASIB. Udah profesornya gak minta interview, langsung ngasih topik penelitian lagi, jadi gak pusing “mikir” topik lagi. Bener-bener NASIB mujur.

Jadi, untuk mendapatkan LoA dari profesor, faktor nasib sangat berpengaruh besar. Tips buat teman-teman yang sedang mencari LoA dari Profesor :
  1. Jangan pernah berhenti berusaha
  2. Perhatikan etika penulisan email dan ejaan nama profesor yang kita lamar. Karena kita tidak pernah tahu se”baik” apa profesor yang kita lamar
  3. siapkan dokumen selengkap mungkin
  4. Alangkah baiknya saat melamar profesor, kita sudah punya LoG (Letter of Guarantee) atau LoS (Letter of Sponsorship) dari provider beasiswa kita karena banyak juga profesor yang tidak memiliki anggaran khusus untuk “menggaji” kita sebagai PhD student sehingga probabilitas untuk diterima akan lebih besar kalau sudah ada beasiswa
  5. Berdoa, berdoa, dan berdoa.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membaca. Viel Erfolg und glücklich!! 😀

Tidak ada komentar